Kamis, 05 Desember 2013

JICMI – Kebangkitan Intelektual

Latar Belakang JICMI

Dalam kurun satu dasawarsa terakhir politik dan ekonomi dunia mengalami turbulensi. Krisis hipotek perumahan di Amerika Serikat telah berlangsung berlarut-larut dan berkembang menjadi krisis finansial global yang meruntuhkan korporasi-korporasi raksasa dunia. Kondisi ini disusul oleh krisis utang sejumlah negara di Eropa. Tingginya rasio utang terhadap GDP (Per 2010, Yunani 142,8%, Italia 119%, dan Irlandia 96,2%) mengakibatkan negara-negara tersebut terancam bangkrut. Mereka mencoba membayar utang dengan menerbitkan utang baru, namun kepercayaan investor melemah sehingga biaya (bunga) untuk menerbitkan utang baru pun semakin mahal. Dampak turunannya, pengangguran meningkat dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut merosot. Berbagai upaya telah dilakukan namun pemulihan ekonomi yang diharapkan tak kunjung terjadi. Semua ini menunjukan bahwa kapitalisme global sedang menuju keruntuhannya.


Di kala Amerika dan Eropa tengah mengalami kemerosotan, China nampak bangkit untuk mengambil peran lebih besar dalam ekonomi dunia dengan mempertahankan pertumbuhan di atas 8 persen setiap tahun. Lalu, dimana kah posisi negeri-negeri muslim saat ini dalam konstelasi politik dan ekonomi dunia?


Di saat yang sama, negeri-negeri muslim di Timur Tengah mengalami perubahan politik besar-besaran. Arab spring telah menumbangkan para diktator di negara-negara tersebut secara bergelombang, dimulai dari Tunisia, menjalar ke Yaman, Libya, Mesir, hingga Syiria. Ini merupakan sebuah awal yang baik bagi munculnya sebuah harapan di negeri-negeri tersebut. Namun hingga saat ini belum terlihat jelas ke arah manakah perubahan tadi berjalan. Apakah revolusi arab hanya menjadi momen untuk mengganti rezim atau kah diikuti oleh perubahan sistem yang memberi perhatian memadai terhadap kedaulatan ekonomi dan militer? Peristiwa kudeta militer atas pemerintahan baru di Mesir baru-baru ini menunjukkan bahwa demokrasi sebagai hasil revolusi tidak efektif mewujudkan perubahan sistemik di negara tersebut.



Sementara itu, indonesia sendiri sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia masih terbelit dengan persoalan ekonomi. Meskipun negeri ini tumbuh 6.3 persen setahun dengan GDP terbesar di kawasan asia tenggara namun demikian kesenjangan dalam distribusi kesejahteraan yang terjadi saat ini mencapai rekor tertinggi dalam satu dasawarsa terakhir. Bila tak ada perubahan signifikan dalam arah politik dan ekonomi, kondisi ini dapat menjadi sebuah bom waktu di masa datang mengingat tanda-tanda ke arah sana telah terlihat, diantaranya adalah lonjakan angka kriminalitas dan konflik sosial.


Dalam konstelasi politik dan ekonomi dunia yang demikian, diskusi mengenai sistem dan peradaban alternatif untuk menggantikan kapitalisme global yang tengah runtuh menemukan relevansinya. Perubahan yang terjadi dibanyak negara, khususnya di negeri-negeri muslim telah memberi peluang bagi munculnya sistem peradaban baru. Khilafah Islam pun mengemuka menjadi sebuah model negara yang patut diperhitungkan sebagai sebuah jalan keluar bagi ruwetnya persoalan di negeri-negeri muslim. Secara historis maupun empris model negara ini pernah ada dan telah terbukti mengantarkan umat islam meraih predikat umat terbaik yang mengukir peradaban emas dalam sejarah umat manusia.

Sebagai sebuah entitas pemikiran yang mengemban tanggung jawab dakwah,Hizbut tahrir Indonesia menganggap penting dan strategis upaya untuk mengelaborasi solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi negeri-negeri muslim di tengah perubahan konstelasi politik dan ekonomi global. Oleh karena itu, HTImengambil inisiatif untuk memfasilitasi sebuah konferensi internasional yang melibatkan intelektual muslim, baik dalam maupun luar negeri untuk mendiskusikan isu-isu tersebut serta merumuskan peran dan tanggung jawab intelektual muslim dalam mewujudkan kembali peradaban Islam.

Konferensi ini bertujuan untuk Mendiskusikan ide dan solusi bagi persoalan yang dihadapi oleh negeri-negeri muslim serta peran yang dapat diambil oleh intelektual muslim dalam membangun kembali peradaban Islam di tengah perubahan konstelasi politik ekonomi dunia 
Membangun jejaring antar intelektual muslim di berbagai institusi baik organisasi dakwah, perguruan tinggi, lembaga riset dan media masa dalam mewujudkan kembali peradaban Islam. 

“The end of capitalism and the prospects of Islamic civilization under Khilafah


Waktu dan Tempat JICMI
Hari pertama konferensi dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Desember 2013 di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok.

Sedangkan Hari kedua dilaksanakan pada hari Ahad, 15 Desember 2013 di Convention Hall SMESCO, Jl. Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta Selatan.


Jamal D. Harwood adalah Analis Ekonomi yang memiliki pengalaman selama 25 tahun bekerja di sektor keuangan (JP Morgan dan Credit Suisse) dan sebagai konsultan manajemen. Saat ini beliau mengajar mengenai Keuangan (program MBA) di University of Wales, Inggris. Beliau telah banyak berbicara mengenai isu-isu ekonomi, hubungan internasional, politik dan Islam. Beliau pernah menjadi pembicara di Oxford Union pada tahun 2007 dan konferensi tentang krisis keuangan internasional di Khartoum, Sudan pada tahun 2009 dan di Beirut, Lebanon pada akhir tahun yang sama. Beliau telah terlibat dalam diskusi publik dan dialog dengan mantan Kanselir Norman Lamont, Jaksa Agung Inggris Dominic Greive MP, Jim O’Neill (Direktur Goldman Sachs Asset Management), Peter Rodman (mantan Asisten Menteri Pertahanan Inggris), Matt Frei (sebelumnya bekerja di BBC dan saat ini bekerja di Channel 4 News), David Smith (Editor Ekonomi dari The Sunday Times) dan kolumnis AS Jonah Goldberg. Tulisan beliau telah dimuat di majalah Time dan sering menjadi komentator mengenai krisis keuangan global di berbagai media Inggris. Beliau juga sering berbicara mengenai harga minyak dan masalah energi serta tampil dalam acara tetap di Islam Channel dan Press TV Inggris.
Dr. Reza Pankhurst adalah seorang cendekiawan politik dan sejarawan, dengan spesialisasi Timur Tengah dan gerakan-gerakan Islam. Beliau sebelumnya adalah seorang tahanan politik pada rezim Mubarak karena keanggotaannya dalam Hizbut Tahrir. Kasusnya diadopsi oleh Amnesty International dan dibahas secara luas di media. Beliau dibebaskan pada bulan Maret 2006, dan sekembalinya ke Inggris memasuki dunia akademis. Pada tahun 2007, dia menyelesaikan gelar Master dalam bidang Sejarah Hubungan Internasional dengan nilai sangat memuaskan di London School of Economics. Beliau mendapat gelar PhD dari London School of Economics dan Political Science pada tahun 2011. Buku beliau yang monumental yaitu The Inevitable Caliphate diterbitkan pada bulan Juni, 2013 oleh Hurst & Oxford University Press.

Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar Professor Riset bidang Sistem Informasi Spasial di Badan Koordinasi Survei & Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), yang sekarang bernama Badan Informasi Geospasial (BIG). Fahmi tercatat sebagai professor riset termuda yang pernah dikukuhkan di Indonesia. Fahmi sudah melanglang ke 34 provinsi di Indonesia dan ke 35 negara di 5 benua, dan mempublikasikan tidak kurang dari 10 buku, 100 tulisan ilmiah, 300 tulisan populer, beberapa DVD dan sejumlah software. Tulisan-tulisan ilmiahnya fokus pada hasil penelitiannya dan pengalamannya dalam mensukseskan berbagai pekerjaan besar seputar informasi spasial dan mencakup berbagai jenis persoalan, seperti standardisasi & otomatisasi pemetaan digital, citra satelit penginderaan jauh, astronomi-geodesy, penataan ruang, manajemen bencana, penegasan batas, ekonomi spasial, perundang-undangan geospasial hingga riset dan inovasi spasial. Fahmi juga mengajar sebagai dosen luar biasa di berbagai kampus, seperti Universitas Paramadina, Universitas Muhammadiyah, Institut Pertanian Bogor, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Pertahanan dan kini sedang membangun lembaga training TSQ – Technoscience Spirituality Quotient, sebuah training untuk melejitkan kreativitias ilmiah berbasis spiritual.

Dr. Muhammad Rahmat Kurnia adalah Doktor bidang Biostatistic & Aquatic Modelling dan saat ini menjadi Dosen di Institut Pertanian Bogor. Beliau mengajar S1 di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, mengajar pascasarjana S2 dan S3 di program studi (PS) Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, PS Pengelolaan Sumberdaya Perairan, dan PS Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan. Beberapa buku karya beliau diantaranya: 1. Perancangan Percobaan, 2. Pemodelan Ekosistem dan Sumberdaya Perairan, 3. Analisis Multifaktor untuk Pengelolaan Perairan. Beliau juga menulis di beberapa Jurnal. Beliau belajar Islam di Pesantren Al Mishbah Bandung dan Pesantren Al-Azhhar Bogor. Beliau menulis beberapa buku Islam diantaranya : Menjadi Pembela Islam; Mereformasi Diri dengan Tauhid; Kritik Ringkas Islam Liberal; Prinsip-Prinsip Memahami Al Quran dan Hadits; Menjadi Politisi Transformatif; Meraih Kemenangan Ramadhan; Renungan Kehidupan; Berpikir Dewasa; Memekarkan Kemesraan Keluarga; Meraih Kekhusyuan Shalat; dan Fikih Cinta. Posisi di Hizbut Tahrir Indonesia sebagai anggota Dewan Pimpinan Pusat HTI dan sebagai Ketua Lajnah Fa’aliyah DPP HTI.
Dwi Condro Triono, PhD adalah pakar ekonomi Islam dan saat ini sebagai dosen Ekonomi Islam di program doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalidjaga, Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara Yogyakarta dan dosen S1 di IAIN Surakarta. Beliau memperoleh gelas Ph.D Ekonomi Islam di Universitas Kebangsaan Malaysia. Beliau belajar Islam di Pesantren Darul Ulum Rembang dan Pesantren Al Muhsin Krapyak Yogyakarta. Beliau pernah menjadi pengurus MUI Yogyakarta, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan ketua Senat Mahasiwa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau sering berbicara tentang ekonomi Islam di Indonesia, Malaysia, Australia, Jepang dan Jerman. Beliau menulis dua buku ekonomi syariah yaitu Ekonomi Islam versus Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi Islam Mazhab Hamfara. Beliau saat ini menjadi salah satu anggota Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia dan sebagai ketua Lajnah Khusus Intelektual (LKI) DPP HTI.

JICMI – Kebangkitan Intelektual
Peneliti dalam naungan Khilafah merupakan Peneliti yang unik. Peneliti dan kaum intelektual mampu menghadirkan peradaban yang gemilang selama berabad abad lamanya. Simak ajakan Dr. M. Rahmat Kurnia untuk kebangkitan kaum Intelektual Muslim dalam acara Jakarta International Conference of Muslim Intellectual pada tanggal 14 – 15 Desember 2013 [www.globalmuslim.web.id]

Lihat Video Trailernya disini http://youtu.be/55M1221DFp0 |  http://youtu.be/ksfKDjVyPyk
[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]

Rabu, 05 Mei 2010

121 detik,...

Berputar. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan waktu yang kita miliki di dunia ini. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti abad, dan seterusnya. Waktu akan terus merangkak, berjalan, berlari, sampai suatu saat kita sadar bahwa kita telah ditinggalkan olehnya.
Namun, sadarkah kita apa saja yang telah kita lakukan selama ribuan jam yang telah berlalu. Pahamkah kita akan tujuan dari kehidupan yang sekarang ini kita jalani. Dan mengertikah kita bagaimana seharusnya kita mengisi hidup di dunia ini untuk ribuan jam yang akan datang.

Masih banyak dari kita yang dalam kehidupannya jauh dari apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya. Kita seringkali masih banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna bahkan tidak jarang masih terjerumus dalam perbuatan maksiat tanpa kita sadari. Kita seringkali meremehkan dan menunda-nunda apa yang menjadi kewajiban kita dan berujung pada kelalaian dalam melaksanakannya. Kita seringkali masih terlena dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang sesaat dan lupa akan kenikmatan yang kekal abadi. Kita seringkali melanggar perintah-perintah Allah walaupun kita telah mengetahui bahwa itu merupakan larangan. Kita seringkali meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah walaupun kita tahu hal itu akan memberi kebaikan untuk kita. Kita seringkali diam ketika melihat kemaksiatan-kemaksiatan meski kita paham apa yang seharusnya kita lakukan. Kita seringkali membuang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat walaupun kita tahu waktu tidak akan berputar balik. Kita seringkali mengacuhkan nasehat yang benar walaupun kita tahu bahwa itu baik untuk kita. Kita seringkali merasa bahwa amal baik kita sudah setinggi langit meskipun kita sadar bahwa setiap waktu kita melakukan dosa. Hati kita seringkali terdapat perasaan sombong karena merasa lebih baik dari orang lain padahal di sisi Allah kita bukan apa-apa.
Saudaraku, marilah kita tengok kembali hakikat kehidupan kita di dunia ini. Dalam riwayat dikatakan bahwa sebenarnya kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara. ”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat” (HR Bukhari).
Kita hidup di dunia ini seperti seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan untuk mencapai suatu tujuan. Seorang musafir sudah tentu tidak ingin berlama-lama dalam perjalanannya. Pasti dia ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Seharusnya itulah yang harus tertaman di dalam benak kita wahai Saudaraku. Dunia ini bukanlah sebuah tujuan yang pantas untuk kita perjuangkan dengan sepenuh hidup kita. Semua yang ada di dunia ini pastilah kita tinggalkan tak terkecuali apa2 yang kita cintai dan sayangi.
Lantas berapa lamakah perantauan kita di dunia ini? Jika kita bandingkan antara umur kita ( rata-rata 70 tahun ) dengan ketika kita dibangkitkan di padang masyar ( 50.000 tahun ), maka menurut teori relativitas kita hidup di dunia ini hanya terasa kurang lebih selama 2 menit 1 detik. Bukankah hal tersebut merupaka waktu yang sangat singkat. Akan tetapi banyak manusia merasa akan hidup di dunia ini selama-lamanya.
Saudaraku, sesungguhnya hanya satu kunci yang dapat kita pegang untuk mengarungi 2 menit itu. Kunci itu adalah sabar. Bisakah kita bisa bersabar untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sungguh-sungguh dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan yang dibenci oleh Allah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk selalu mengisi waktu kita untuk melakukan ibadah kepada Allah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk memperjuangkan kembali tegaknya Islam dengan berdakwah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk senantiasa introspeksi diri dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk menerima nasehat yang benar untuk diri kita dalam 2 menit itu. Dan bisakah kita bersabar untuk senantiasa melakukan sesuatu yang dapat membawa ridho Allah kepada kita dalam 2 menit itu.
Ya, memang benar kehidupan kita setelah di dunia ini ditentukan bagaimana kita manjalani kehidupan di dunia ini. Apakah kita taat ataukah ingkar terhadap hukum-hukum Allah. Jadi Saudaraku, bersabarlah untuk selalu taat kepada hukum-hukum Allah di kehidupan yang singkat ini demi meraih kehidupan yang terbaik kekal di akhirat kelak. [gs]
[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]

Selasa, 13 April 2010

Andai Detik Dapat Berulang

Andai kita dapat berpergian menjelajah waktu, pastilah banyak diantara kita yang kembali ke masa kanak-kanak kita. So pastilah. Apa sih yang kurang ketika kita masih kecil ? Ketika kita masih imut-imut semua orang begitu sayang dengan kita. Papa, mama, om, tante, semua begitu gemas lihat penampilan kita. Belum lagi ketika kita lagi nangis di malam hari waktu bayi, semua orang di rumah ikut ribut. Kita mau mainan, pasti ada yang mbeliin.
Tapi bukan itu aja yang buat masa kecil itu begitu indah. Mulai dari main dengan teman-teman sebaya, sampai jalan-jalan dengan kedua oranguta. Pokoknya masa kecil itu bebas, lepas, tanpa beban, dan yang pasti bahagia banget.


Beda banget dengan kondisi kita sekarang. Setiap hari harus sekolah mulai pagi sampai sore. Belum lagi tugas-tugas yang makin hari makin banyak. Berbuat apapun gak bebas. Mau melakukan apapun mesti ngikut aturan negara, aturan sekolah, aturan keluarga, sampe aturan agama. Hidup kayak ribet banget.
Eitss, tunggu dulu. Sebelum kita menambah daftar panjang keluhan hidup kita ada baiknya kita ikuti tulisan-tulisan menakjubkan di bawah ini.
Hmmm..Kita mulai perjalanan ini dengan merenungi tentang masa kecil kita. Kita tentu sudah lupa masa-masa bayi kita. Tapi coba kita amati bayi-bayi disekeliling kita. Seorang bayi merasa sangat senang ketika diberi susu dikala haus, merasa senang ketika diganti popoknya ketika buang air. Sang bayi mungkin bisa tersenyum puas setelah tangis panjangnya, tapi coba kita lihat gimana perjuangan ayah dan bundanya. Sang ayah dengan terpaksa mengorbankan waktu tidurnya demi mengganti popok sang bayi di malam hari. Begitupula sang bunda yang rela mengorbankan segala kepentingannya untuk memberi susu dikala sang bayi haus dan menangis.
Kemudian masih ingat nggak kita dengan masa taman kanak-kanak kita ? Ketika kita meronta-ronta meminta sebuah mainan hingga akhirnya kita dibelikan oleh kedua orangtua kita. Atau ketika kita bercerita kepada kedua orangtua kita mengenai barang yang kita inginkan, kemudian beberapa hari kemudian kedua orangtua kita dengan senyum yang mengembang membawa barang yang kita idamkan. Rasa gembira seketika itu juga datang menghampiri kita. Akan tetapi ketika itu kita gak peduli dengan kondisi orangtua kita. Padahal ketika kedua orangtua kita membelikan barang yang kita inginkan itu harus mengorbankan barang yang ingin dibelinya.
Trus nih, masih ingetkan saat-saat membahagiakan ketika kita bermain bersama teman-teman dekat kita di sekitar rumah. Tentu ingat banget. Bahkan masih terbayang di benak kita wajah-wajah imut teman-teman sebaya kita. Tapi sadar atau pun nggak, banyak wajah-wajah cemberut yang mengelilingi kegembiraan kita waktu itu. Tanpa kita sadari ada nenek tetangga yang terganggu tidur siangnya akibat suara tawa kita yang membahana. Ditambah lagi kedua orangtua kita yang harus membersihkan bekas coretan-coretan kita di dinding.
So udah jelas kan. Dulu kita memang hidup dengan damai dan penuh kesenangan, tapi tanpa disadari banyak orang yang menderita demi senyum bahagia kita. Apa kita masih mau bahagia seperti masa kecil kita dulu ?
Tentu Sahabat semua pasti gak mau bahagia seperti itu. Bahasa kerennya bahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi gak semua orang sebaik Sahabat yang lagi baca tulisan ini.
Kalau mau bukti liat aja kehidupan masa remaja saat ini. Gak sedikit yang datang ke sekolah dengan sepeda motor yang dimodif. Mulai dari knalpot yang bunyinya dapat dikenali dari jarak satu kilo sampai bentuk sepeda yang dibuat agar mata setiap orang tertuju pada sepeda tersebut.
Modif motor memang pekerjaan dengan biaya besar. Tapi gak jarang yang rela mengeluarkan biaya besar buat sang motor tercinta. Katanya sih untuk kepuasan pribadi atau bahkan agar bisa dikatakan keren.
Sikap seperti ini gak jauh beda dengan sika-sikap anak taman kanak-kanak. Ketika anak TK bahagia dengan mainan baru, mereka bisa bahagia dengan sepeda yang warna-warni. Dan parahnya lagi kalau anak TK itu masih belum tau betapa besar perjuangan orangtuanya untuk membelikan mainan, lha mereka itu juga ikut-ikutan gak sadar. Mereka sama sekali tidak peduli dengan perjuangan orangtua untuk mencari uang. Dan seperti mencontek tindakan anak TK yang suka pamer mainan ke temennya, merek juga suka pamer motor ke teman-temannya. Nah ini yang bahaya. Padahal gak semua orang di sekolah itu secara keuangan dikatakan mampu.
Sama juga dengan teman kita yang suka gonta-ganti hp biar gaya, menyemir rambut biar dikatakan keren, dan lain sebagainya. Padahal kalau kita lihat di Indonesia aja, para remajanya banyak yang belum beruntung. Banyak para ramaja seusia kita yang harus putus sekolah gara-gara tidak punya biaya. Belum lagi remaja-remaja yang terpaksa harus berbuat kriminil agar bisa mengikuti gaya hidup teman-temanya. MasyaAllah.
Itu masih di Indonesia aja. Coba kita tengok sedikit keluar jendela. Di luar sana banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang masih menderita. Di Palestina para remajanya bahkan tidak pernah terpikir untuk sekolah. Di sana mereka tidak bisa berjoget ria dengan iringan lagu band favorit mereka. Musik paling indah disana adalah teriakan takbir diiringi suara desiran peluru dan ledakan bom. Suasana tak jauh berbeda juga dialami teman-taman kita di Afghanistan, Pakistan, dan beberapa negara lainnya.
Kita yang hidup di negara Indonesia yang damai dan sekarang masih dicukupkan rezekinya mungkin masih bisa tersenyum saat ini. Tapi apakah enak bila kita tersenyum bahagia disaat ada teman kita yang menangis sedih di perempatan jalan.
Tentu tidak. Coz gak ada yang namanya bahagia kalau gak bisa dibagi. Bayangin aja kalau kita habis juara, tapi seluruh teman dan keluarga kita malah nangis semua. Pasti kita jadi salting atau bahkan ikut-ikutan nangis tanpa sebab. Maka gak enak kalau kita bahagia dan tertawa sendiri. Bisa dikira gila lho.
Lha terus gimana caranya biar kita bisa berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang masih menderita ? Tentu saja hal itu gak akan bisa didapat hanya dengan duduk-duduk sambil membayangkan indahnya masa depan. Apalagi hanya berharap ada mesin waktu yang dapat membawa kita ke masa depan.
Pastinya ketika kita ingin berbagi kebahagiaan kita pasti harus ada yang dikorbankan. Ibu dan Bapak kita dengan senang hati mengorbankan segala keinginannya, segala hartanya demi melihat senyum manis sang buah hati. Semuanya dikorbankan hanya untuk bisa tertawa bersama sang anak tercinta. Sama juga dengan kita sekarang. Ketika kita ingin berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang lain, maka harus ada yang dikorbankan.
Semua hal bisa kita korbankan dalam hidup. Mulai dari harta, tenaga, pikiran semua dapat menjadi korban untuk membayar tawa saudara kita. Nah selain harta atau tenaga, kita juga dapat mengorbankan keinginan kita. Caranya adalah dengan mengerem segala aktivitas dengan mengikuti aturan yang ada terutama aturan Islam.
Kalau dilihat dari jauh, aturan islam tu memang kelihatan berat, susah, dan membuat orang gak bebas. Tapi kalau dilihat dari deket ya gak gitu-gitu amat. Aturan islam memang membuat orang gak bebas, tapi itu ada maknanya. Coba kalau kita hidup tanpa aturan yang mengikat. Pastinya kehidupan akan kacau balau. Contoh paling mudah ya kehidupan kita saat ini. Setiap orang berusaha mendapat kebahagiaan tanpa peduli orang lain bahagia ato malah menderita. Maka dari itu Islam hadir untuk mengontrol kehidupan kita. Jadi semua aturan islam itu ada agar kita bisa bahagia tanpa membuat orang lain menderita.
Jadi hanya dengan menjalani aturan Islam dengan utuh kita bisa berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang lain. Dan pastinya menjalani aturan islam itu butuh pengorbanan yang gak sedikit. Perlu niat kuat dan kesabaran yang tinggi. Mulai sekarang hilangkan segala keegoisan kita, mulai bagikan tawa dan bahagia pada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.
Ingat. Dalam hidup ini kita bisa mendapatkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dan kita hanya bisa mendapat satu diantara ketiganya. Kita bisa memilih berkorban demi mendapatkan ilusi masa lalu, berkorban untuk kepentingan diri kita saat ini, atau berkorban untuk mencapai masa depan. Maka mana yang ingin kita raih ? [gs]




[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]

Minggu, 11 April 2010

Pergi, dan Jangan Kembali

Hmm.. jadi inget lagunya Cokelat nih, ”pergi, cepat pergi! Jangan, jangan kembali. Tinggalkan ku sendiri, memang lebih baik begini!” eits, sudah Sobat jangan nyanyi terus! Ga sadar ya, kalo suaranya fals en ga bisa jaga pitch control? Iya deh, sory. Emang suara kamu koq yang paling bagus, suaranya Sobat memang jelek. Puas! Udah, cukup berantemnya. Kita kembali ke jalan yang benar. Ngomong-ngomong tentang judul diatas, muncul sebuah pertanyaan. Emangnya siapa sih, yang disuruh pergi? Ah, paling-paling pacar. Kalo ga gitu TTM ato jalinan HTS alias Hubungan Tanpa Status. Iya, kan? Lagi-lagi bahas soal pacaran dan pergaulan. Basi, tau nggak Sobat! He..he.. sabar dulu donk, pren. Tapi betewe, O'o Sobatyah ketahuan. Koq kamu tahu? Emang kamu yakin kita bahas masalah itu? Oke sebelum kita jelasin, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini.
Ada yang datang, ada yang pergi. Kira-kira begitulah ungkapan pepatah. Ada senang, ada susah. Itu mah udah pasti. Jika sesuatu yang mengasyikkan itu datang, kemudian kita senang, itu juga sudah wajar. Tapi seandainya keindahan itu pergi, itulah yang luar biasa. Maksudnya? Sabar dulu pren, biar kita terusin dulu ngomongnya.
Alkisah hiduplah dua orang sahabat. Sebut saja, Odah dan Odeth. Saat bulan Romadhon kemarin, kedua dara cantik ini menghabiskan waktu bersama. Mulai dari sahur bareng, buka bareng, sholat tarawih bareng hingga tadarus Al-Quran juga dilakukan bersama-sama. Seandainya dikompetisikan, aktifitas ibadah kedua sahabat ini saling susul menyusul. Singkatnya mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Pun demikian juga ketika mereka merayakan Idul Fitri. Opor ayam dan ketupat dimasak dan dimakan bersama-sama. Silaturahim kepada sesama, lagi-lagi dilakukan bersama.
Namun betapa terkejutnya ketika Odah menyaksikan sahabatnya, Odeth menanggalkan kerudungnya seminggu setelah lebaran. ”Romadhon kan udah selesai,nah sekarang aku bisa beraktifitas lagi seperti biasanya.” begitulah kata Odeth, sambil membiarkan sahabatnya menelan ludah satu liter karena keheranan. Tanggapan Odeth itu seakan menunjukkan kegirangannya setelah Romadhon telah meninggalkannya. Maklum, doi mempunyai aktifitas sampingan sebagai seorang model. Setelah Odah melakukan cek n ricek, ternyata Odeth sahabatnya, mengenakan kerudung dan beribadah dengan khusyu' karena ingin menjiwai dan meresapi bulan yang penuh rahmat tersebut. ”Ya, mumpung Romadhon. Kalo diluar bulan Romadhon, aku kan sibuk, en ga mungkin pake kerudung. Soalnya aku kan model, jadi nggak mungkin kan? Kalo pake kerudung, aku kan ga bisa jadi model lagi. Wah, apa kata dunia?” jelas Odeth, yang kali ini membuat Odah bener-bener paham.
Odeth, dan Odeth-Odeth yang lain beranggapan bahwa bulan Romadhon adalah saatnya untuk berpakaian lebih sopan, khatam Al-Quran dan mengurangi jatah diapelin oleh pacar masing-masing. Bagi mereka, bulan Romadhon hanya sebagai hiasan yang bisa dipakai dan ditanggalkan setahun sekali. Dan yang lebih parah lagi adalah anggapan bahwa Islam hanya ada di dalam masjid, majelis ta'lim, kontes MTQ pemilihan Da'i dan pengajian di TV saja. Diluar itu, sah-sah saja jika manusia berbuat sesuka hati. Nah, kalo udah seperti ini muncullah fenomena STMJ alias Sholat Terus, Maksiat jalan. Atawa yang terbaru, TOPI yang kepanjangannya Tadarus Oke, Pacaran Iya. Sungguh terlalu!
Emangnya kenapa sih, kalo sebagai remaja kita berbuat agak bebas? Ya, secara gitu lho, kita kan butuh refreshing, hiburan, kesenangan, pokoknya yang asyik-asyik gitu! Nah, kalo kita ikut Islam terus, ntar kemana-mana disuruh pake peci, kalo yang cewe harus pake kerudung n jilbab. Padahal kita udah mahal-mahal beli shampo anti ketombe n bikin rambut berkilau. Kalo ditutupin terus, percuma donk ga ada orang yang bisa ngeliat?! He..he.. sabar dulu neng, udah selesai demonya? Kita lanjutin lagi. Emang ga bisa dipungkiri, masa remaja adalah masa yang paling bahagia. Secara gitu loh! (hii..hii..ikut-ikutan padahal ga ngerti artinya secara>_<). Bahkan ada lagu yang sangat populer menceritakan bahwa darah muda, darahnya para remaja. Jiwa yang sedang tumbuh ini lagi semangat-semangatnya mencari arti hidup. Saking semangatnya, semuanya ditabrak, untuk pengalaman katanya. Mulai dari minuman keras, pacaran sampe yang lebih jauh, rasanya wajib untuk dicoba. Oke deh, kalo sekedar cari pengalaman sih boleh-boleh aja, tapi kalo hanya karena alasan tersebut badan kita jadi bonyok dimana-mana, atau nasi udah menjadi bubur dan tepung udah jadi rempeyek, ini yang bermasalah. Daripada nantinya terperosok, ada baiknya kan kalo kita belajar dulu tentang sesuatu sebelum melakukannya. Nggak usah alergi dulu kalo denger kata-kata Islam, pengajian, fiqih dan lain-lain. Seperti kata Raffi Achmad dan Ayushita,”Jangan bilang tidak, bila kita belum mencoba...” tapi bukan asal semua hal langsung dicoba lho, ya! Nah untuk yang satu ini, ikuti saran penulis yang suaranya nggak kalah bagus dari Raffi Achmad,”Jangan bilang iya, bila kita belum belajar...” tuh kan! Ternyata fren, kalo kita mau membuka kepala (tapi jangan pake obeng atau palu lho, ya!) atau kata lainnya mau belajar, akan kita temukan bahwa Allah swt. telah mengatur segalanya dengan begitu baik, sehingga semua peraturan yang Dia berikan bersama Islam mulai dari A sampai Z dan dari 0 sampe 9, ternyata sangat sesuai dengan semua kebutuhan dan fitrah manusia. Kalo nggak percaya, teliti aja sendiri. Mulai dari bangun tidur, sampe mau tidur lagi semua aturan ada dalam Islam. Masih ga percaya? Mari kita buktikan. Menurut definisinya (waduh, opo maneh iku?!) Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw. Melalui perantara malaikat Jibril yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya dan manusia dengan sesamanya. Hmmhhh... bentar ambil nafas dulu! Artinya, semua hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia telah diatur oleh Allah swt. misalnya, ketika bangun tidur, kita diajarkan untuk membaca doa. Hayo, siapa yang tadi pagi nggak baca doa? Kemudian saat akan masuk toilet kita juga disuruh untuk berdoa. Setelah itu mau BAK (Buang Air Kecil) hingga BAB (nyang ini yang besar) semua ada caranya. Kemudian tata cara kita berpakaian juga ada aturannya, misalnya laki-laki harus menutup auratnya mulai pusar hingga lutut, kemudian wanita wajib mengenakan jilbab dan kerudung. Ini baru aturan tentang diri kita pribadi. Untuk beribadah kepada Allah, Islam juga mengaturnya. Bagaimana cara sholat, puasa, zakat dan lain-lain. Untuk berinteraksi dengan sesama, Allah juga memberikan kita peraturan. Contohnya, pergaulan antara laki-laki dan wanita, terus jika kita mengadakan jual beli. Wes, pokoknya komplit. Top Markotop, deh! Terus Sobat, yang disuruh pergi di paragraf awal itu siapa sih, dah ga sabar nih?! Untuk pertanyaan itu, ntar pasti kita jawab. Tapi Commercial Breaknya masih belum selesai. Jadi sabar dulu, ya. Kita kembali ke shaf yang rapat dan lurus (emangnya lagi sholat!). Sebagai seorang muslim dan muslimah, sudah selayaknya kita menyerahkan semuanya kepada Allah. ”Hidup matiku, adalah kuasa-Mu!” begitulah kata Pasha Ungu. Yakinlah bahwa apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kita adalah yang terbaik. Ketika Allah memerintahkan seorang cewe untuk menutup aurat, dan lebih memilih pake baju you can see, you can touch sampai you can thing, di suatu saat dan kondisi, pakaian yang seperti ini dapat menimbulkan fitnah. Bayangin aja, kalo Bunga Citra Lestari mengenakan pakaian seperti itu di Mall. Wah pasti semua mata tertuju padanya. Terus, seandainya pakaian seperti ini dikenakan oleh mbok Sumi penjual sayur yang tiap pagi lewat didepan rumah kamu, wah jangan dibayangin lagi. Pokoknya parah, bro! Nah, kalo para wanita mengumbar auratnya seperti ini, bukan tidak mungkin naluri lelaki para pejantan tangguh akan meluap-luap, dan pasti endingnya yang dirugikan adalah wanita, tul ga? Belum lagi dosa yang harus ditanggung seorang wanita yang melakukan mal praktek dalam berbusana. Karena saat seorang wanita sengaja mempertontonkan auratnya kepada laki-laki, selain dia berdosa atas tindakannya, doi juga ikut menanggung dosa lelaki yang meilhatnya. Tapi jangan mentang-mentang seperti itu, lantas seorang pria sah-sah saja memelototi aurat wanita yang tidak halal baginya. Setali tiga uang, Bro. Kita semua tahu jika setiap manusia memiliki naluri dan kebutuhan biologis yang harus ditunaikan. Tetapi bukan lantas kepengen sesuatu, kemudian bertindak semaunya sendiri, sebab Allah telah memberikan akal buat manusia. Dan ternyata akal lah yang membedakan antara kita dengan hewan. Seandainya seekor sapi jantan udah nepsong dengan betinanya, nggak masalah dia meu eh mau melakukan itu dimanapun. Dan jika di dunia ada seekor sapi yang berkenan menggunakan celana hot pants, rok mini dan tank top kemudian berdiri di tengah lapangan, nggak akan ada orang yang mengatakan ”dasar sapi ga tau malu!” atau ”dasar, sapi nggak punya harga diri!” yang ada paling-paling, ”Siapa sih yang punya sapi ini, udah gila ya?” Artinya, nggak masalah ketika seekor sapi bertingkah yang aneh-aneh dan nggak bisa diatur, lha wong namanya aja sapi! Bagaimana seandainya seorang manusia yang nggak bisa diatur, seenaknya dan semau udelnya sendiri dalam melakukan sesuatu? ”wah, kalo ini namanya orang aneh. Udah punya akal, diberi aturan oleh Allah, tapi tetep ga mau denger. Apa mau, disamain seperti hmm.. nggak jadi wes. Pokoknya sama. Terserah mau disamain seperti apa. He..he..!” Setelah mata kita telah terbuka oleh kenyataan bahwa hanya Islamlah yang bisa mengatur segalanya, dan menyadari keterbatasan kita, sudah selayaknyalah kita ubah haluan, tuk kembali kepada agama ini. Tenang aja bro n sis, nggak ada kata terlambat untuk meminta ampunan kepada Allah atas apa yang telah kita lakukan di hari-hari yang tlah lalu. Jika di bulan Romadhon, kita bisa mengusir godaan syetan dan bisa mengendalikan hawa nafsu kita serta lebih mendekat kepada Allah, bukan tidak mungkin di bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya kita bisa jadi orang yang lebih baik. Jika di bulan Romadhon, kita sukses mengusir jauh kemaksiatan dari diri kita, mulai hari ini dan seterusnya, tempelkan stiker yang bertuliskan ”Maksiat dilarang masuk”. Hee..hee... emang kamu pintu, bisa ditempelin stiker. Yee, bukan begono maksudnya. Kok masih belum mudeng, to? Gini lho, kalo kemarin kita bisa menahan diri untuk nggak berbuat maksiat, sekarang harusnya lebih bisa lagi. So, selamat jalan maksiat, selamat datang taubat! Setuju, akur kan?[gs]
[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]

Sang Pemberani, Ibnu Mas'ud

Sebuah mutiara yang cantik tak lahir dari tempat yang indah. Kalimat ini yang kayaknya layak disandang oleh sahabat nabi yang satu ini. Dia bukan orang yang tinggi besar. Dia bukan pula orang kaya dan punya jabatan. Tapi kalau ngomongin keberanian dan perjuangannya untuk islam gak ada yang bisa nyamain deh. Tinggi keberaniannya jauh melebihi tinggi badannya. Harta keikhlasannya lebih banyak dari harta aslinya.
Dia adalah Abd'ullah bin Mas'ud. Seorang sahabat yang termasuk dalam assabiqunal awwalun ( sahabat yang pertama-tama masuk islam ). Ketika ditanya tentang awal mula masuk islam, Ibnu Mas'ud pernah bercerita. Begini ceritanya :
“Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan Uqbah bin Mu'aith. Tiba-tiba datang Nabi bersama Abu Bakar dan bertanya: “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami ?”.
“Aku hanya orang kepercayaan, aku bukan pemilik kambing ini” ujarku, “dan tak dapat memberi Anda berdua minuman”

Maka Nabi berkata : “Apakah kamu punya kambing betina mandul, yang belum dikawini ( kambing yang tidak mengeluarkan air susu ) ?”. “Ada”, ujarku. Lalu saya bawakan kambing itu kepada mereka. Kambing itu diihat kakinya oleh Nabi lalu diperas susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba dari susu itu keluar susu yang banyak. Kemudian Abu Bakar mengambikan sebuah batu cembung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu. Lalu Abu Bakar pun minum, dan saya pun ikut minum juga. Setelah itu Nabi berkata kepada susu: “Kempislah!': maka susu tu menjadi kempis.
Setelah peristiwa itu saya datang menjumpai Nabi, kataku: “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebutl”
Ujar Nabi : “Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”
Melihat mukjizat yang dimiliki Rasulullah itulah, ibnu Mas'ud terkagum-kagum. Rasulullah pun kagum dengan sifat amanah yang dimiliki ibnu Mas'ud kecil, padahal pada masa itu orang yang amanah jumlahnya sedikit. Dari pertemuan pertama kalinya dengan Rasulullah itu, ia menjadi mantap untuk memeluk Islam dan berubah dari sosok seorang anak kecil yang tidak memiliki keberanian dalam memilih jalan hidupnya dan menyampaikan kebenaran kepada orang-orang kafir Quraisy menjadi salah seorang yang paling berani dalam jalan dakwah Islam dan memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi umat muslim.
Dalam usia yang masih belia ia sudah tumbuh menjadi sosok yang memiliki kepribadian yang mulia. Meskipun Ibnu Mas'ud itu kurus kering, pendek, dan miskin , ia tidak merasa minder ataupun goyah imannya sedikit pun. Waktu Islam mulai didakwahkan secara terang-terangan, ibnu Mas'ud menunjukkan sikap rela berkorban demi mendakwahkan Islam. Dia tidak peduli dengan segala akibat yang mungkin diterimanya meskipun nyawa yang akan menjadi taruhannya. Gini ceritanya :
“Yang mula-mula membaca al-quran dengan keras di Mekah setelah Rasulullah adalah Abdullah bin Mas'ud.
Pada suatu hari para shahabat Rasulullah berkumpul, dan salah seorang dari mereka berkata : “Demi Allah orang-orang Quraisy belum pernah mendengar sedikit pun al-quran ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka... Nah, siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka ....”
Maka kata Ibnu Mas'ud: “Saya “
Kata mereka: “Kami Khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan ialah laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankan dia dari orang-orang Quraisy jika mereka bermaksud jahat ....”
”Biarkanlah saya!” kata Ibnu Mas'ud pula, “Allah pasti membela”.
Maka datanglah Ibnu Mas'ud kepada kaum Quraisy di waktu dluha, yakni ketika mereka sedang berada di balai pertemuannya. la berdiri di panggung lalu membaca : Bismillahirrahmaanirrahim, dan dengan mengerashan suaranya: Arrahman Allamal Quran ....
Lalu sambil menghadap kepada mereka diteruskanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya :
”Apa yang dibaca oleh anak si Ummu 'Abdin itu ... .Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad”
Mereka segera mendatangi dan memukuli Ibnu Mas'ud, dan Ibnu Mas'ud sendiri meneruskan bacaannya sampai batas yang dihehendaki Allah. Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak-belur ia kembali kepada para shahabat. Kata mereka:”Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi padamu ....!”
Ibnu Mas'ud lantas berkata “Sekarang ini tak ada dakwah yang lebih mudah untuk menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya kalian menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama besok “
Sahabat yang lain lantas berkata: “Cukuplah! Kamu telah membacakan kepada mereka sesuatu yang tabu bagi mereka!”
So, itulah yang yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ud. Keberaniannya bahkan mengalahkan sahabat senior seperti Abu Bakar. Memang dalam soal harta, ia tidak ada apa-apanya. Bila ngomong masalah badan, ia kecil dan kurus. Apalagi dalam soal jabatan, bagai langit dan dasar laut paling bawah. Tapi sebagai ganti dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, ia dianugerahi kemauan baja yang dapat menundukkan para penguasa dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam telah memberinya harta yang melimpah dari hasil perjuangan umat Islam. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang terlunta-lunta, Islam telah melimpahinya ilmu pengetahuan, kemuliaan serta ketetapan, yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.
So, gimana dengan kita ? Kita yang udah punya harta yang cukup, fisik yang lumayan ganteng buat yang laki n cantik buat yang perempuan, ditambah kondisi ortu yang udah layak dalam berbagai hal. Tapi kenapa kita tidak mau berjuang untuk kemuliaan Islam. Apa kata dunia nanti ?? [gs]
[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]

SUPERMAN n SUPARMAN ,..

Superman dan Suparman bukanlah anak kembar. Bukan pula saudara yang lahir dari ibu yang sama. Tapi tak disangka jalan hidup keduanya serupa tapi tak sama.
Sobat semua pasti tau kan dengan Superman. Siapa sih yang gak kenal dengan dia. Badan kekar yang kebal peluru ditambah dengan pendengaran tajam ditambah sinar mata perusak dan tak lupa kemampuan terbang. Gak cukup punya fisik dan skill tangguh, Superman juga punya jiwa kesatria nan baik hati. So, gak salah bila Superman menjadi idola tersendiri bagi semua orang terlebih lagi anak kecil.
Gak jauh-jauh amat dengan Superman, Suparman juga gak kalah hebat. Tubuh kurus kering dibalut dengan baju lusuh selalu menemani penampilannya. Tapi jangan salah sangka dulu, dibalik penampilannya yang kurang meyakinkan, Suparman menyimpan kemampuan khusus untuk berjalan hingga puluhan kilometer dalam sehari semalam dalam segala kondisi. Mau hujan, terang, bahkan badai sekalipun. Itu masih dilengkapi juga dengan badan yang tahan segala kondisi. Kurang apa coba ?

Lain Super lain pula Supar. Kalau Superman menggunakan kemampuan supernya untuk menolong sesama, membantu yang kesulitan dan mengalahkan penjahat, maka Suparman menggunakan kekuatan suparnya untuk berjalan kesana kemari meminta belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya alias menjadi seorang pengemis. Beda banget antara kedua insan beda dunia ini.
Tentu sebagai manusia yang normal kita semua pingin jadi seperti Superman. Manusia yang dipuja oleh jutaan orang. Kehadirannya selalu dinanti dan kedatangannya membawa manfaat. Dan so pastilah, kita gak mau hidup seperti suparman. Hidup ato nggak gak ada yang peduli.
Tapi bener nih mau jadi seperti seorang Superman ? Coba kita telusur dan telisik dulu. Coba kita kembali ke masa para superhero belum terkenal. Superman remaja hidupnya gak seperti kita-kita ini. Karena superman remaja berbeda dengan teman-temannya, maka dia dijauhi dan bahkan dimusuhi. Tapi gak hanya itu aja. Di tengah masa-masa sibuk sekolah, selalu ada aja orang-orang yang butuh pertolongan atau musuh baru. Kayak orang lain gak tau aja Superman mau ujian. Belum lagi kalau Superman remaja lagi Falling in Love. Kalau remaja sekarang lagi Falling in Love pasti langsung maen tembak. Tapi Superman remaja gak bisa kayak gitu. Kalau ketahuan musuhnya pasti nyawa orang yang dikasihi akan terancam. Belum selesai masalah-masalah tadi muncullah masalah baru. Banyak orang tidak suka dengan aksi Superman. Alasannya merusak lah, mengganggu lah, pokoknya banyak deh alasannya.
Nah itu tadi sebagian masalah sang Superman sebelum jadi terkenal. Tapi ketika udah besar dan terkenal seperti sekarang masalah ya masih belum selesai. Justru masalahnya tambah banyak dan tambah ruwet. Ketika sebagian besar orang berfikir masalah pasangan hidup, anak, dan pekerjaan, Superman justru masih menambah pikirannya dengan masalah-masalah orang lain. Bayangin aja ditengah sibuk-sibuknya bekerja ada orang minta tolong.
Nah itu tadi adalah sekelumit kisah perjuangan sang Superman. Trus setelah menyimak kisah tadi, apakah kita masih tetep mau jadi Superman ?
Kalau kita tetap mau menjadi seperti Superman pasti kita akan mengalami nasib yang sama dengan Superman. Ketika kita ingin berguna bagi orang lain tentu kita harus rela untuk bersusah payah dan berkorban banyak. Ketika kita berusaha menolong orang lain belum tentu pujian dan sanjungan yang kita dapat. Bahkan malah hinaan, ejekan yang didapat. Tapi itu masih biasa. Kita seringkali harus berkorban harta, tenaga dan waktu yang berharga. Ketika teman-teman yang lain lagi bersenang-senang dengan buku pelajaran, kita malah keluyuran kemana-mana untuk menolong orang lain.
Dan tentunya beda banget perjuangan jadi Superman dengan menjadi Suparman. Kalau mau jadi seorang Suparman dengan hidup ala kadarnya gak butuh perjuangan ekstra. Cukup dengan duduk manis sambil memasang wajah kelaparan. Dan pastinya hasil yang akkan dipetik akan berbeda juaauh.
Tapi inget Sobat semua, Allah tidak akan menurunkan ujian yang tidak sanggup manusia pikul. Kalau nggak pastinya di dunia ini gak ada yang namanya Superman. Bukti yang paling jelas bisa dilihat pada orang paling berpengaruh di dunia. Siapa lagi kalau bukan nabi kita Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah orang yang kehebatannya diakui oleh jutaan orang di dunia. Dan lebih hebatnya lagi pengakuan itu tidak datang hanya dari kaum muslim saja. Banyak orang dari berbagai agama mengakui kehebatannya. Kalau kita telusuri sejarah hidup nabi kita, pastinya untuk menjadi nabi seperti sekarang itu jalannya gak mudah. Berapa kali nabi kita terancam dibunuh. Belum lagi setiap hinaan dan ejekan yang datang silih berganti. Tapi semuanya bisa dilewati.
Kalau mau contoh lagi ada dari penerus nabi kita. Dia adalah sahabat nabi sekaligus khulafaurasyidin dengan watak paling keras. Dialah Umar bin Khattab. Semua orang pasti tau segala kelebihan dari sahabat nabi ini. Meskipun wataknya keras, tapi karena kepemimpinannya-lah peradaban Islam dapat berkembang dengan pesat. Dan ternyata Umar tidak mendapat semuanya itu hanya dengan duduk manis di perempatan jalan. Dalam suatu kisah Umar diceritakan pernah membawa sekarung makanan utnuk diberikan kepada rakyatnya yang kelaparan. Belum lagi setiap malam dihabiskannya untuk berkeliling kota menengok rakyatnya. Nah kalau mereka aja bisa kenapa kita nggak ?
Sebenernya nih, untuk menjadi seorang Superhero itu syaratnya gak macem-macem. Cuma dibutuhkan kekuatan super aja. Tapi yang namanya kekuatan super bukan hanya otot yang kuat hingga bisa mengangkat kereta api aja. Atao malah kemampuan terbang, sinar penghancur, dll, dkk aja. Yang itu hanya ada di layar kaca aja.
Kekuatan super itu sebenernya sudah ada dalam diri kita. Sejak diri kita berada dalam kandungan mama tercinta, sudah ada bibit-bibit kekuatan super dalam diri kita. Coba kita amati tubuh kita sekarang. Meskipun sekarang ada yang gemuk kayak tong ato kurus kayak tiang, tapi tubuh yang kita punya ini sudah di rancang sedemikian rupa sehingga menjadi tubuh yang sempurna. Kita diberi dua tangan dan dua kaki yang mampu mendukung segala gerakan kita. Kita juga diberi dua buah mata, satu hidung, dan dua telinga yang kesemuanya memiliki fungsi masing-masing. Nah ini belum ditambah dengan beragam bagian tubuh dalam manusia. Semua organ yang bertumpuk dalam tubuh memiliki fungsi yang berkaitan dan kesemuanya bekerja bersama-sama sehingga kita bisa hidup sekarang.
Itu hanya dari sisi fisik saja. Belum lagi ditambah hati nurani yang khas milik malaikat dicampur dengan nafsu khas milik syaitan. Dan sebagai penyempurna, kita diberi juga akal sebagai harta berharga manusia. Dengan akal ini manusia dilebihkan atas semua makhluk. Dengan akal itu kita bisa terbang layaknya burung. Kita juga dapat berenang layaknya ikan kerena ulah akal ini.
Nah itulah sebenarnya bibit-bibit kekuatan super yang ada pada diri kita. Nyatanya gak semua orang bisa mengeluarkan kekuatan supernya itu. Hidup Superman dan Suparman memang beda. Tapi bukan berarti mereka memang tercipta dengan potensi yang berbeda. Suparman tercipta dengan potensi yang sama dengan Superman. Bedanya hanya Superman bisa mengeluarkan dan mengarahkan potensinya aja.
Nah, kunci sebenarnya dari potensi manusia tak lain dan tak bukan adalah iman dan Islam. Kekuatan iman dan Islam ini yang akan mengeluarkan semua potensi manusia sehingga manusia menjadi seorang superhero.
Kalau diibaratkan iman itu seperti tubuh kekar nan atletis milik Superman. Dengan tubuh yang kekar Superman dapat bertahan dari serangan para musuh-musuhnya. Dan dengan tubuhnya itu pula Superman mampu mengalahkan musuh-musuhnya. Seperti itu pula fungsi iman. Dengan iman yang kuat kita menjadi pribadi yang taat dan sulit digoyang. Dengan iman yang kuat kita akan bertahan dari serangan-serangan yang menghadang. Dan lebih dari itu, iman juga menjadi pondasi ketika kita mau menyelamatkan orang lain. So, meskipun tubuh kita krempeng dan pendek kalau kita punya iman yang kuat pasti kita akan lebih kuat dari orang yang tinggi kekar.
Tapi hanya dengan iman tidak akan cukup. Perlu dilengkapi dengan Islam. Bila iman adalah tubuh kekar nan atletis maka Islam dan aturannya adalah kemampuan terbang, sinar penghancur, jaring laba-laba, dan pokoknya semacam itulah. Islam dan iman memang pasangan sehidup semati. Seperti pula antara badan kekar dengan kemampuan terbang. Tentunya kita gak bisa memisahkan antara tubuh kekar dengan kemampuan terbang. Bayangin aja Superman dengan tubuh kekar tapi gak bisa terbang. Tentunya Superman gak bisa nolongin orang-orang. Gimana mau nolong, untuk datang ke tujuan aja harus lari-lari. Begitu pula sebaliknya, bila Superman bisa terbang, tapi gak punya badan yang kekar. Kalau cuaca ceranh mungkin gak ada masalah. Tapi gimana kalau lagi hujan badai. Bisa hilang Supermannya. Begitu pula iman dan Islam. Keduanya saling melengkapi dan membutuhkan.
Yang namanya Islam pasti tidak pernah lepas dari aturan. Yang namanya aturan pastinya itu bersifat membatasi. Mau ngelakuin ini gak boleh, itu gak boleh, pokoknya banyak hal yang gak dibolehin. Terkadang kita mungkin sangat jengkel dengan aturan Islam yang gak ngebolehin banyak hal. Tapi jangan ill-feel dulu. Aturan Islam memang sangat ketat n lengkap. Buktinya semua kelakuan kita ada hukumnya dalam Islam. Mulai dari bangun tidur, ke kamar mandi, sekolah, sampai pulang n tidur lagi semua ada aturannya. Peraturan ini gunanya agar kita gak salah dalam menggunakan kemampuan kita. Bayangkan aja kalau kita hidup tanpa aturan. Pasti segalanya akan jadi kacau. Penjahat yang harusnya dibasmi malah disanjung-sanjung.
Dengan aturan Islam inilah kita bisa mengatur kekuatan kita. Yang namanya kekuatan super memang gak boleh digunakan sembarangan. Kalau dipakai sembarangan pasti akan merusak dunia. Coba kalau Superman menggunakan kemampuannya melihat menembus tempok untuk melihat orang mandi. Wah, gawat jadinya. Belum lagi kalau kemampuan Superman dipakai untuk berbuat jahat.
Selain untuk mengatur kekuatan diri sendiri, aturan Islam adalah alat penyelamatan terbaik. Ini bukan menyelamatkan dari penjahat aja. Tapi lebih dari itu, menyelamatkan manusia dari dunia yang rusak dan dari siksa api neraka. Kita kan dah tau bahwa Islam itu yang tebaik. Maka gak salah bila yang dapat menyelamatkan manusia hanya Islam. Kalau gak dengan Islam, kita mau pake cara apa untuk menyelamatkan manusia dari kerusakan dunia dan siksa neraka ?
Nah sekarang terserah kepada kita. Apakah kita sekarang mau menjadi seperti Suparman ataukah Superman. Kita semua bisa jadi Superman atau bisa jadi Suparman. Jalan untuk membangkitkan kekuatan super dalam diri kita juga telah terbentang di hadapan kita. Semua terserah kepada kita. Apakah kita mau menempuh jalan yang berat dan berliku untuk mendapat iman dan Islam sekaligus mempertahankannya atau kita memilih hidup ala kadarnya dan menjadi orang yang ala kadarnya juga, hidup ato nggak gak ngefek. [gs]
[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]