Jumat, 26 Juni 2009

Negeri Permadani Stanza Syahdu .

Hamparan pulau dan derai ombak menghiasi setiap sudut bumi pertiwi. Langit cerah cemerlang yang bertabur penuh bintang ikut menambah semarak indahnya negeri ini. Milyaran butir padi keemasan selalu menyapa mentari yang terbit di pagi hari. Panorama yang indah senantiasa terbentang di setiap penjuru negeri Permadani. Rangkaian kepulauan yang mencapai 1,3% luas bumi dan memiliki pesisir terpanjang di dunia 81 ribu kilometer. Hutan tropis yang luas membentang bagaikan permadani hijau yang indah. Di dalamnya terdapat 447 spesies binatang, yang 225 diantaranya hanya ada di negeri ini. 25 ribu tanaman berbunga dan 515 spesies hewan mamalia liar. Negeri yang selama puluhan tahun menyimpan seribu satu kisah kehidupan di tengah gugusan pulau-pulau yang tersebar diantara dua samudera.
Jika mengingat pelajaran sejarah, cerita perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan negeri ini dari serangan penjajah, menjadi topik yang sangat berharga. Uang, harta benda, hewan ternak, lahan, bahkan sampai nyawapun harus rela diberikan. Semua itu hanya untuk satu kata kemerdekaan.

Perjuangan pahlawan meraih kemerdekaan tidaklah mudah. Siang malam, pagi sore, yang ada dalam pikiran mereka adalah agar negeri Permadani ini lepas dari semua bentuk penjajahan. Bom, meriam, mesiu dan desiran peluru telah akrab dalam kehidupan mereka. Jika bisa dituliskan dalam novel, bolehlah kisah tersebut diberi judul ”Sebuah Cinta Dalam Selongsong Peluru”. Tetes demi tetes darah menjadi genangan yang membanjiri Permadani yang indah ini. Guyuran keringat dan air mata pun ikut membasahi bumi tempat kita berdiri. Tangis dan pekik takbir membahana, disertai jutaan nyawa yang ikut melayang, telah menjadi bukti peristiwa heroik di bumi pertiwi.
Merdeka Merdeka Merdeka….. begitulah sorak sorai ratusan orang di jalan-jalan kota. Sesaat terdengar sayup lagu kebangsaan yang mengalun bak angin malam yang semilir. Lagu yang identik dengan semangat kebebasan dan patriotisme itu disambut dengan perasaan gegap gempita oleh hampir semua lapisan rakyat negeri Permadani. Setengah abad lebih sudah usia negeri ini. Waktu yang sudah begitu udzur jika diibaratkan sebagai sebuah perjalanan seseorang.
Kini, masa-masa perjuangan itu telah menjadi kenangan. Negeri Permadani telah lepas dari teror peluru dan granat penjajah, bahkan gedung bertingkat, jalan beraspal, dan kendaraan mewah berhasil menjadi perhiasan yang dibangga-banggakan. Seakan itu semua sudah cukup dijadikan ucapan terima kasih kepada para pejuang. Namun, para pelaku sejarah yang masih hidup, sang veteran, terkatung-katung menjalani kehidupannya. Ibarat lelah berlari mengejar matahari, tapak tilas perjuangan mereka terbayar hanya dengan rasa iba tanpa hasil nyata. Perhatian khusus dan balas jasa kepada mereka hanya terhenti pada sebuah upacara bendera dan penyematan bintang semata. Ironis, namun itulah kenyataannya!
Masih berbicara tentang pahlawan, tapi yang satu ini biasa disebut pahlawan devisa. Kisah pilu nan mengharukan berkali-kali mereka lukiskan dalam catatan hidup negeri ini. Penyiksaan, pelecehan, pemerkosaan, penipuan, hingga kehilangan nyawa menjadi kisah telenovela yang harus mereka jalani. Semua itu demi ingin hidup merdeka ato sekadar hidup layak seperti orang lain. Keselamatan mengais nafkah di negeri seberang tek terjamin, namun disisi lain mereka menjadi penghasil devisa negara terbanyak. Tragis, tapi inilah yang terjadi!
Kisah lain juga diceritakan dari sudut kota sub-urban hingga metropolitan.Dimana generasi muda tengah tenggelam dalam lautan hedon. Ya, sebuah virus mematikan dari barat ini telah menyerang muda mudi Indonesia. Hedonisme yang sering dikenal dengan sikap hura-hura dan kebebasan yang mengakibatkan keblabasan ini telah cukup sukses menghancurkan masa depan remaja. Penyalahgunaan Narkoba, tindakan kriminalitas dan amoral menjadi warna dalam keseharian remaja negeri Permadani. Bukan rahasia umum jika penyebaran virus HIV/AIDS kebanyakan bermula dari jarum suntik obat-obatan psikotropika atau penggunaan narkoba, dan parahnya mayoritas pengguna narkoba adalah kaum muda.
Ditengah-tengah sawah dan ladang yang luas membentang serta hutan tropis terbesar di asia pasifik 115juta Ha, 13 juta lebih anak-anak negeri Permadani mengalami kelaparan.(Suara Pembaruan, 11/7/07). Diantara tumpukan emas berlian, serta guyuran minyak bumi dan gas alam serta laut dengan kandungan ikan 6,2 juta ton per tahun atau sama dengan Rp 74 triliun per tahun, 210 juta penduduk rawan kemiskinan. Pada tahun 2002, 50 juta jiwa menderita gangguan kesehatan dan tidak memiliki akses fasilitas kesehatan. Seperti penyediaan air bersih, sanitasi, transportasi, jalan raya dan listrik.” (Australia-Indonesia Patnership, Juli 2004). Di dalam sebuah negeri yang menghasilkan 1,2 juta barel minyak per hari dan memiliki cadangan minyak 97 miliar barel, pada tahun 2006, tingkat pengangguran meningkat sekitar 11,1 %. Jika ditotal, keseluruhan pengangguran pada tahun itu adalah 41 persen atau lebih dari 40 juta orang. (Antara News, 7/07/07). Jika bicara hutang negeri ini mempunyai rekor yang fantastis. Yaitu lebih dari Rp. 1300 trilliu n telah terkucur ke dalam kehidupan negeri ini. Namun yang mencengangkan, 95 persen dari jumlah itu hanya dinikmati oleh sekitar lima puluhan orang saja. Sebuah kisah fantastis di tengah-tengah gemerlap perayaan kemerdekaan.
Dibalik kekayaan yang luar biasa itu, negeri Permadani tidak berkutik menghadapi serangan dari luar. Tercatat 92% minyak dan gas bumi dikuasai swasta asing. Kebanyakan Undang-undang yang ada di negeri ini, dibuat berdasarkan kepentingan asing. Lihat saja, bagaimana Undang-undang sumber daya alam, air, listrik dan sebagainya, yang makin memanjakan pihak asing dalam mengeksploitasi kekayaan negeri ini. Di satu sisi, 68,7% penduduk indonesia tidak memiliki rumah, dan harus mengemis di negeri sendiri. Undang-undang Pornoaksi dan pornografi (dulu anti-pornoaksi dan pornografi) juga dibuat agar negara asing dapat memasukkan produk-produk yang berbau seks. Sehingga menjadikan negeri yang katany gemah ripah loh jinawi ini, menjadi peringkat nomor dua setelah Rusia sebagai surganya pornoaksi dan pornografi. Dalam bidang hukum pun setali tiga uang. Negeri Permadani yang notabene memiliki jumlah kaum muslimin terbesar di dunia, malah menduduki rangking pertama negara terkorup di Asia (Survey Political and Economic Risk Hongkong, 2002).
Setelah menilik kondisi tersebut, rasanya kita semua telah sepakat, bahwa negeri Permadani belum merdeka sepenuhnya. Memang secara fisik bangsa ini telah bebas dari penjajahan. Namun jika kita mau berpikir mustanir (menyeluruh) maka akan banyak ditemukan bentuk penjajahan baru yang ditodongkan pada negeri sejuta mamalia ini. Untuk itu peran kita sebagai generasi muda sangat diperlukan. Yaitu untuk membawa Islam sebagai jawaban untuk menyelesaikan semua permasalahan pelik ini. Bukankah Allah Swt telah mewajibkan mengambil agama ini sebagai peraturan hidup manusia?
Ya, kemerdekaan ini adalah karunia Allah, bukan karunia Jepang, atau para pahlawan kita apalagi sekutu. Karunia Allah yang akan menguji bangsa ini apakah mensyukurinya atau mengingkarinya. Maka Dia pun Yang Maha Pengasih tapi juga keras siksa-Nya meminta pertanggungjawaban kita. Sudahkah kita mengikuti seluruh perintah dan menjauhi larangannya, sedangkan Allah telah menganugerahkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”(Q.S. Al-Baqarah:2)
Satu hal, yang menjadikan kondisi negeri Permadani berbeda dengan negeri-negeri yang lain. Suasana plural sangatlah terasa dalam setiap sendi kehidupan. Namun demikan, lagi-lagi hanya Islamlah yang dapat menjaga kedamaian berbagai kaum agama. Karena memang hakikat Islam adalah rahmat bagi semua, jika diterapkan secara sempurna. Tengoklah saja, kehidupan di Andalusia. Umat Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan. Kemudian, ketika Islam membuka daerah Mesir, orang-orang yang menolong kaum muslimin berasal dari suku Qibti, yang notabene beragama Nasrani.
”Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya:107)
Namun apa boleh dikata, Islam kini hanya menjadi pemanis, sebagai doa ditengah gegap gempita perayaan hari kemerdekaan. Tragis jika kemerdekaan negeri ini, yang sangat erat dengan rasa syukur kepada Allah swt., malah menjadikan Islam jauh dari kehidupan rakyatnya. Jadikan kemerdekaan ini sebagai kehidupan yang sepenuhnya menjalankan perintah Allah Swt dan menegakkan kebenaran berdasar ajaran Rasullullah Muhammad Saw. untuk membangun kehidupan yang lebih baik, tentunya. Mari bergegas ambil posisi untuk bergabung berjuang menegakkan Islam dimuka bumi. (gs)

[ B a c a - S e l e n g k a p n y a . . . ]