Rabu, 31 Maret 2010

diary of a girl...

Seorang gadis mungil duduk termenung di ruang tamu. Di kesunyian malam, diiringi dengan suara Angin serta hawa dingin yang mulai menusuk, seakan mendukung suasana sepi di ruangan itu.. Dia berada dikursi coklat dengan posisi melipat kedua kakinya sembari kedua tangannya mendekap dipegangan kursi. Terus diletakkan dagunya di atas lipatan tangannya. Mukanya tampak sayu dengan pandangan penuh lamunan. Hidungnya yang tak bisa dikatakan mancung sesekali mengkerut mengikuti irama isakkan tangisnya. Air mata yang tak terlalu banyak membasahi sebagian besar pipi tembemnya. Keputusasaan , sedih bertahta kekecewaan sedang menguasahi relung hatinya. Penyesalan, kebimbangan, kegelisahan, merasa terus gagal salalu ada di benaknya. Keluarga yang seharusnya dapat memberikan keceriaan ketika susah, semangat ketika duka, dan motivasi saat melemah, namun malahan neraka yang didapatnya. Ayah, yang mau dijadikan pelindungnya hanya bertindak seperti majikan yang seenaknya memberi perintah. Ibu yang ingin dimintai kasih sayang, tapi justru berperilaku layaknya anak kecil yang susah diatur dan sibuk dengan keinginannya. Kakak yang seharusnya memberi contoh, namun pergi tak tentu arah dan menikmati rasa keacuhannya. Dan adik yang ingin diarahkannya menuju keridhoanNya, tetapi hanya membuat hati tambah bengkak.
Ada seorang perempuan yang tak terlalu cantik, tidak terlampau tinggi, tidak baik-baik amat, suka marah, dan menang sendiri, begitu memperhatikannya. Bahkan melebihi perhatihan terhadap Adeknya sendiri. Wanita itu sudah menganggap si gadis mungil itu seperti bagian dari hidupnya, dia ingin membahagiakannya. Seorang kakak perempuan yang sudah dianggap Gadis sebagai pengganti ayah dan ibu. Berperan sebagai guru, sahabat, teman, juga adik. Tempat Gadis bertanya, mencari nasehat dan berlindung. Sebagai sandaran hidup sementara, agar Gadis tidak menjadi “Rapuh”.
Wanita ini berusaha mempersiapkan masa depannya, keluarganya dan masa depan Gadis nantinya. Ia rela pindah dari satu kota ke kota lain bahkan satu pulau ke pulau lainnya. Hanya demi mewujudkan impiannya kepada Gadis. Semoga sang Robbi menuntun wanita ini dan selalu melindunginya. Amin….
Semula gadis tidak bisa menerima semua kenyataan itu. Konflik dengan keluarga, ditambah kepergian wanita tadi. Ia ingin membuang semua itu. Trauma yang memberikan bekas luka, tak mungkin hilang oleh waktu dan tersimpan secara otomatis di otak, menjadi kenangan yang sulit di hapus.
Tapi semakin Gadis ingin melupakan seluruh masalah-masalahnya, justru masalah kian menjadi menumpuk. Apa dengan lari dari kenyataan, masalah akan bisa selesai ???
Masih terlihat Gadis sedang melamun. Entah sedang memikirkan apa. Sorot matanya kosong. Mungkin ia sedang menerawang jauh ke masa lalu. Mengingat masa- masa yang indah baginya.
Tetapi, ketika ia sadar, itu hanya sebuah kenangan. Hanya sebuah angan-angan di masa lalu yang tidak akan bisa terulang. Kenangan indah yang biasa menjadi obat hatinya. Meski kenangan tersebut terasa samar dan getir. Itulah yang selama ini membuat Gadis dapat bertahan. Rindu sekali ia pada masa itu.
Andai waktu bisa diputar kembali….andai saja…
Kembali Gadis menangis…
Sering terbesit di benaknya untuk menyerah…..”…I'm So Tired with My Life..”.
Tak jarang pula ia iri terhadap keceriaan keluarga lain. Mereka selalu senang saat bersama. “ Kok ortuku, kakak-kakaku gak bisa kayak gitu ya ??”
Seharusnya Gadis dapat menikmati masa remajanya, seperti teman-teman seusianya. Merasakan kehangatan kasih sayang keluarga. Mendapat sesuatu yang lebih baik.
Selama ini, Gadis hanya mendengar kisah hidupnya dari orang lain. Entah mengapa, semua kenangan manis itu terhapus secara spontan dalam pikirannya. Selama ini yang ada hanyalah sisa-sisa dari kenangan terindah itu.
Adakah secercah harapan untuk Gadis???
Gadis berkata di hati,”Kurindu kasih sayang sebuah keluarga, Biarlah hanya dalam mimpi, walau sekali saja, aku ingin dapat merasakan kehangatannya. Semata-mata hanya untuk menghapus kerinduanku pada ayah, ibu, kakak, dan adikku tersayang.”
This is the begin, not know the end…


Dibukanya kembali, album foto yang terletak di atas meja ruang tamu. Ditatapnya sebuah foto keluarga. Tampak jelas senyum dan kasih sayang di dalamnya. Terdapat keakraban, kedekatan sebuah keluarga. Foto yang diambil enam tahun yang lalu. Foto keluarga yang pertama dan yang terakhir bagi Gadis. Tak ada suara-suara canda, keceriaan, dan tak ada lagi tempat untuk bercerita. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding, kebisuan tembok ruang tamu, serta kesunyian bangunan rumah Gadis. Suram dan dingin rasanya.
Seandainya ia mau, tajamnya pisau dapat ia goreskan dipergelangan tangan mungilnya. Jika ia berkehendak, pahitnya obat serangga bisa saja ia relakan untuk mengalir melalui kerongkongannya. Bahkan bila ia bersedia, tali jemuran bisa saja ia jeratkan dilehernya. Tetapi, …Gadis tidak mau tenggelam begitu saja dalam kesedihannya. Ia tidak mau terpuruk dalam keputusasaan. Meratapi nasib, kecewa dan selalu mengeluh.
Bisa jadi ini jalan baginya untuk mencapai surga. Biarlah Allah SWT yang mengobati segala luka-luka di hatinya. Meski hatinya telah remuk, tercabik-cabik bagaikan sebuah cermin yang tidak dapat distukan lagi karena telah hancur lebur, semua cobaan ini akan ia jalani dengan sabar. Memang tak seindah harapan, namun rencana Allah selalu yang terbaik.
Ingatkah kau kepada batu intan? Batu intan yang memancarkan keindahan, yang selalu membuat takjub siapa pun yang memandangnya. Sebuah batu permata yang indah tatkala sinar mengenainya. Sebuah batu yang awalnya berwarna hitam legam. Yang semula tak berharga, dipandang remeh oleh orang, menjadi batu yang paling indah pesonanya. Pukulan, siksaan, goresan, dan bakaran apilah membuatnya begitu indah. Sama halnya dengan Gadis, teruslah bersabar menghadapi cobaan, himpitan, dan berbagai penderitaan. Percayalah bahwa ini adalah yang terbaik untuk menjadikannya seseorang yang terbaik. Gadis menyadari dirinya hidup dalam masalah yang sangat besar dan pelik, namun ia juga mengetahui bahwa sebesar apapun masalah yang ia derita, takkan mampu mengalahkan dahsyatnya problematika yang kini sedang menyeruak dalam kehidupan umat Islam
Jadi don't give up Gadis, jangan pernah menyerah, teruslah berjuang untuk umatmu. Because you are Loved and You're not alone. Allah will always with you. Sesungguhnya di balik kesusahan, ada kemudahan. Allah tak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Tetap bersabar dan ridho terhadap segala ketetapanNya. Teruslah berdoa dan selalu berpegang teguh pada agamaNya. Hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. Sebab ada rahasia di balik semua itu. Yakinlah, wahai Gadis kecilku…

Hasbunallah wa ni'mal wakil. Ni'mal maulana wa ni'man nashir.
Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.
Laa tahzan, Innallaha ma' ana. (Dikutip dari catatan kecil seorang kakak kepada adeknya. Syahidah)

1 komentar: