Senin, 22 Maret 2010

Mengembala sapi......

Segala puji bagi Allah yg tdk pernah menganggap salah perbuatan apapun yg dilakukan hambaNya, selama itu terjadi di alam mimpi. Pencurian, perampokan, pembunuhan, perzinahan, bahkan korupsi pun tdk dianggapNya sebagai dosa, asal dilakukan di alam yg hanya bisa kt datangi ketika kt tidur itu. Nah, utk nanti malam, aku sudah merencanakan sebuah mimpi. Mimpi yg belum pernah kuimpikan sebelumnya: ngobrol berdua dgn Dian Sastro sambil menggembala sapi. Skenario lengkapnya ada di sekian paragraf di bawah ini. Kalian boleh membacanya, tapi jangan protes jika ada hal2 yg menurut kalian keluar dari batas2 logika. Bukankah dunia mimpi tdk pernah mengenal matematika?
Sebuah siang menjelang sore. Sisa2 sinar mentari lembut membelai hamparan padang rumput setinggi mata kaki di sebuah kaki bukit. tdk sepi apalagi sunyi. Di tengah padang rumput itu ada sekian puluh sapi yg dari tadi asyik menikmati makanannya. Lima di antra sapi itu adalah milikku, 7 lainnya milik Dian sastro,& sisanya milik org lain.
Kami, para penggembala sapi, duduk santai di bawah pohon2 jati yg tumbuh di sektr padang rumput. Ada yg tidur pules malah. Aku duduk bersandar di bawah pohon yg paling besar sembari membaca The Great Gatsby, novel yg ditulis F. Scott Fitzgerald awal tahun 20-an. Sementara Dian Sastro berada tdk jauh dariku. Hanya kira-kira 5 meteran. Dia hampir menamatkan The Sun Also Rises-nya Earnest Hemingway. Yah, kami berdua adalah penggembala yg sama2 menyukai karya sastra. Bedanya, dia sangat kuat membaca sementara aku cepet capek dalam menjalani ritual yg satu ini. Seperti saat ini, baru beberapa menit saja aku sudah ngos-ngosan (lho, membaca apa lari marathon sih?).

Capek membaca, timbullah keinginanku utk mengajaknya bicara. Kupanggil namanya. Dia menoleh kalem sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Bisa diskusi sebentar, mbak?” tanyaku dgn nada serius.
“Bisa. Tentang apa, Dhe'?” jawabnya dgn penuh kesabaran, seperti biasanya.
“Tentang sapi. Mm...Sapi apa hayo yg selalu istiqomah berjalan ke arah utara? Dia tdk pernah berjalan ke arah timur, Barat, tenggara, selatan, ataupun arah yg lain?”. Mendengar itu, kening Dian Sastro tampak berkerut-kerut.
“Dhe', nggak ada topik diskusi yg lebih menarik ta?” rengeknya setelah beberapa lama mikir tapi gak nemu jawaban.
“Oh, jelas ada. Jangankan yg lebih menarik, yg lebih mendorong aja banyak he he”. Dia tersenyum kecut mendengar leluconku yg nggak lucu itu.
“Begini, mbak. Selain menggembala sapi dan membaca novel, mbak sastro kan juga main film. Sebenarnya apa yg mbak sastro cari?“ tanyaku serius. Kali ini bener2 serius. The Great Gatsby kututup sepenuhnya setelah meletakkan lidi pembatas di antara halaman 96 dan 97. Dian Sastro pun meletakkan the sun also rises di rerumputan, melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di atas novel itu, kemudian memandangku tepat di bola mata. Setelah beberapa jenak, lirih dia menjawab.
“Keindahan.”
Aku tercenung dgn jawaban singkat itu. Yah, bagi banyak org, keindahan memang ada di mana-mana. tdk hanya ada di pucuk-pucuk gunung, sumber-sumber mata air, dan rerimbunan pepohonan, tapi juga ada di padang gembalaan, di belantara kata-kata dalam sebuah novel, di panggung-panggung drama, di lokasi syuting, atau bahkan dalam sesungging senyum manis seorg gadis desa. Aha! Jangan-jangan itu alasan Dian Sastro menentang habis RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Bukankah dalam pornografi dan pornoaksi terdapat juga “keindahan”? Aku mulai manggut-manggut. Dia masih memandangiku, ingin memastikan kalau aku sudah benar-benar paham.
“Kapan sesuatu bisa dikatakan indah?” tanyaku dgn ekspresi polos. Dia tersenyum, seakan sudah menduga sebelumnya.
“Dalam kamus Oxford dikatakan bahwa beauty is a combination of qualities that give pleasures to the senses (esp. to the eye and ear) or to the mind (maksudnya: sesuatu bisa dikatakan indah jika ia bisa mendatangkan kenikmatan pada indera, khususnya mata dan telinga, dan juga pada pikiran, Red.)”. Paparnya berteori.
“Di sinilah peran karya seni, dhe',” lanjutnya, “unsur pertama yg harus dipenuhi adalah unsur keindahan. Ada pelukis yg menggambar wanita telanjang, ada penari yg ngebor-ngayg-mata-mata, ada penyanyi dan pemain sinetron yg berpakaian serba minim, ada penulis yg bercerita panjang lebar tentang alat kelamin, itu semua, bagi mrk, mungkin adalah utk memenuhi unsur keindahan itu”.
“Tapi, Dhe!”, dia buru2 menambahkan, “beda org bisa jadi berbeda pandangan mengenai keindahan. Bagi Mbak, maen film adalah sesuatu yg indah. Bagi sampeyan, bisa jadi itu merupakan hal yg sama sekali membosankan. Begitu juga, naik gunung bagi sampeyan adalah hal yg indah; tapi bagi Mbak, itu sesuatu yg membahayakan”
“Jadi, indah atau nggak indah itu sifatnya sangat individual ya, Mbak?” tanyaku memastikan.
“Pinter!” jawabnya dibarengi sebuah acungan jempol dan senyum kepuasan. Suasana terasa hening, meski agak jauh di kanan-kiri beberapa pengembala terdengar main tebak-tebakan. Dalam komunitas kami, main tebak-tebakan memang menjadi hiburan andalan. Aku masih berusaha mencerna kata-kata Dian Sastro.

“Mbak Sastro pernah mendengar tentang keindahan Surga?” tanyaku kemudian.
“Iya,” jawabnya singkat tapi dgn pandangan mata yg bertanya-tanya.
“Mbak percaya jika itu adalah tempat yg paling indah yg diciptakan Allah utk manusia?” tanyaku lagi. dia mengangguk mantap sembari sejenak memejamkan dua matanya utk meyakinkanku.
“Apakah keindahan yg Mbak cari itu juga temasuk keindahan surga?” lanjutku.
“Ya iya-lah. Emang kenapa?”
“Kalo gitu sama, Mbak. Saya juga mencarinya, he he. Marzuki juga,” lanjutku sambil melemparkan pandangan ke Marzuki, penggembala sapi juga. Dia sedang melepaskan tali kekang sapinya dari sebuah akar pohon. Mungkin ia hendak pulang cepat hari ini. Tadi pagi aku mendengar kabar bahwa emaknya agak tdk enak badan.
“Saking pengennya dia mendapatkan keindahan Surga, dan saking percayanya bahwa Surga adalah tempat terindah yg gak ada tandingannya, sampe-sampe dia menganggap bahwa apa saja yg bisa mengantarkannya ke Surga adalah keindahan. Nggak hanya itu Mbak, dia juga bilang bahwa seindah apapun suatu hal, jika itu malah menjauhkan manusia dari Surga, pada hakikatnya ia sama sekali tdk indah. Sama sekali bukan keindahan,” ceritaku. Sunyi. Dian Sastro tiba-tiba seperti membeku. Tapi aku cuek aja, malah melanjutkan cerita.
“Karena itulah, Mbak, menurut Marzuki, seindah apapun sebuah puncak gunung, jika itu malah membuat saya semakin jauh dari Surga, ia hanyalah sebuah keindahan yg semu. Keindahan yg semu, karena keindahannya malah menjauhkan saya dari keindahan yg sebenarnya. Gittu!”. Dian Sasto masih membeku. Aku pun melanjutkan cerita.
“Melukis org telanjang di atas kanvas, megal-megol di atas panggung yg ditonton banyak org, merangkai kalimat-kalimat cabul dalam novel, berpakaian minim di depan umum, bagi sebagian org mungkin merupakan keindahan. Tapi bagi Marzuki, itu adalah keindahan palsu. Kalaupun dikatakan seni, itu adalah seni yg palsu dan menipu,” Gadis itu tetap saja membeku. Aku pun melanjutkan lagi ceritaku.
“Seni itu bukan hanya berfungsi utk menghibur org, tetapi juga utk mengajarkan sesuatu pada mrk, bahkan seni juga bisa digunakan utk mengubah pikiran dan perilaku mrk. Lalu, dimana letak keindahan sebuah karya seni jika ia malah menyuguhkan hiburan yg tdk sehat, mengajarkan sesuatu yg buruk, dan mengubah seseorg dari baik menjadi buruk dan dari buruk menjadi jauh lebih buruk lagi? Itu yg dipertanyakan Marzuki, Mbak. Dia mendefinisikan kebaikan sebagai apa saja yg dipandang baik oleh hukum syara' dan keburukan sebagai apa saja yg dipandang buruk oleh hukum syara'. Hukum syara' itu adalah hukum islam, begitu katanya. Mbak Sastro punya komentar?” pertanyaan terakhirku itu memaksanya utk bicara.
“Menurut mbak, dunia seni adalah dunia kekreativitasan. Kekreativitasan itu tdk akan jalan jika ada dalam batasan-batasan, karena karakter dasar dari sebuah kekreativitasan itu justru mestinya mendobrak apa saja yg membatasinya” jawabnya sambil tersenyum manis. Aku tdk tahu apa makna senyum itu.
“dgn kata lain, mbak sastro ingin mengatakan bahwa agama adalah penghambat kekreativitasan. Dan jika kt membatasi diri dgn aturan-aturan agama maka kt akan kesulitan utk menjadi org kreatif. begitukah?” tanyaku memastikan. Dian Sastro mengangguk ragu. Maka aku pun melanjutkan dgn sebuah pertanyaan pamungkas.
“bagi seorg pencari keindahan seperti mbak sastro, mana yg lebih penting: menjadi org kreatif atau mendapatkan keindahan surga? Mbak sastro tdk bisa memilih keduanya jika mbak sastro tetep kukuh berpendapat bahwa utk menjadi kreatif seseorg harus meninggalkan batasan-batasan agama. Sementara kt tahu, bahwa utk mendapatkan keindahan surga, seseorg harus terikat dgn aturan-aturan agama dalam setiap aspek kehidupannya, termasuk ketika membuat karya seni”.
Dian sastro terdiam. Dia menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan. Matanya menerawang ke arah langit biru, yg dihiasi arak-arakan awan putih tipis. Sementara mentari hampir sampai di ujung cakrawala. Merah saga. Beberapa jenak Dian sastro seakan tenggelam dalam kesendiriannya. kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku, menatap tepat di bola mataku. Kali ini aku menunduk. menekuri rerumputan. menungggunya bicara, entah tentang apa.
“Dhe', Almarhum Buya Hamka pernah bertanya: "Mengapa manusia bersikap bodoh? tdkkah engkau tatap langit yg biru dgn awan yg berarak seputih kapas? Atau engkau turuni lembah sehingga akan kau dapatkan air yg bening. Atau engkau bangun di malam hari, kau saksikan bintang gemintang bertaburan di langit biru dan rembulan yg tdk pernah bosan org menatapnya. Atau engkau dengarkan suara jangkrik dan katak saling bersahutan. Sekiranya seseorg amat gemar memandang keindahan, amat senang mendengar keindahan, niscaya hatinya akan terbebas dari perbuatan keji. Karena sesungguhnya keji itu buruk, sedangkan yg buruk itu tdk akan pernah bersatu dgn keindahan"”. Gadis itu berhenti sejenak, seakan memberiku kesempatan utk memahami setiap rangkaian kata-kata Buya Hamka yg dihafalnya di luar kepala itu. Cara membacanya tadi tdk sama dgn ketika dia mendeklamasikan puisi karangan Rangga di sebuah kafe dalam Ada Apa dgn Cinta. Kali ini jauh lebih menghanyutkan.
“dhe', pemikiran-pemikiran marzuki tentang hakekat keindahan akan mbak pertimbangkan. Kapan-kapan mbak ingin diskusi langsung dgnnya. Kalau perlu, mbak akan ajak juga Jajang C noer, Rieke Diah Pitaloka, dan artis2 lain yg selama ini sepemikiran dgn mbak. kt buat seminar di sini, di padang ini. Seminar Gembala Sapi. Cuman, ada hal lain yg ingin mbak tanyakan”.
“tentang apa, mbak?” tanyaku penasaran.
“jadi, sapi apa sih yg selalu berjalan ke utara, tdk pernah ke arah yg lain?” oalah, ternyata pertanyaan itu!
“Sapi yg selalu berjalan ke arah utara dan tdk pernah ke arah yg lain adalah sapi yg berjalan dari arah selatan” jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia juga tersenyum manggut-manggut.
“sekarang sapi apa yg suka makan lalapan lele?” balasnya memberi teka-teki.
“ah, itu sih mudah. Pasti sapi'i kan?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk kecewa.
“hayo, sekarang lele apa yg bisa terbang?” giliranku memberi tebakan.
“mana ada?!” protesnya.
“ada. Lelelawar!” jawabku. Merasa dicurangi, dia melepas sandal jepit sebelah kanannya dan melemparkannya ke punggungku. Bukk! Auw!
Langit semakin biru. Sang mentari semakin mendekati ujung cakrawala. Semakin merah saga. Saatnya mimpi diakhiri, sebelum dian sastro melepas sandalnya yg kiri.ngacirrrr.^_^
(-GS-in memory of my brother nadief-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar