Rabu, 24 Maret 2010

Saatnya Bangun, Hadapi Realita.!

Tambah tahun, tambah umur. Begitulah kata orang. Namun disadari atau tidak, ternyata pepatah tersebut tidak sepenuhnya benar. Buktinya, dengan semakin bertambahnya waktu, usia kita akan terus berkurang. Kalo nggak percaya, sekarang liat aja deh, orang-orang disekelilingmu. Temen kamu, si Joko yang dulu wajahnya imut-imut, sekarang diatas bibirnya sudah dihiasi dengan kumis. Tinggi badannya pun bertambah tinggi, suaranya semakin ngebas, dan sebagainya.

Akan tetapi , hal ini nampaknya jarang dipahami oleh kebanyakan remaja. Sebagian mereka memilih terlelap dalam mimpi masa muda. Nggak sedikit muda-mudi yang up to date dalam hal gaya hidup. Mulai penampilan yang kudu trendy, sampai pergaulan yang luas dan bebas. Seorang pemuda pastinya gengsi donk, kalo dikatain anak jadul, alias jaman dulu. Disamping itu Mabdamaze, hidup di jaman serba ai ti menjadikan segala bentuk pengetahuan dan informasi sangat mudah untuk didapatkan. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya informasi yang muncul di media sangat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Sebagai contoh, ada iklan di tipi yang berbunyi, “hari gini, nggak punya hape? Kemana aja lo?!” langsung berpengaruh terhadap perilaku konsumen. Apalagi dalam iklan tersebut, pemerannya adalah remaja. Wuih, pastinya anak muda yang ga punya hape, langsung deh berburu telepon seluler. Lebih-lebih, harga yang ditawarkan nggak bikin kantong bolong.

Itu tadi baru sebuah kebutuhan terhadap handphone, belum lagi informasi yang menawarkan segudang manfaat yang menggiurkan. Seperti rupiah, popularitas, jadi artis dan lain-lain. Wow, masih muda tapi udah terkenal dan kaya raya. Siapa yang ga mau? Sebut saja audisi-audisi artis dadakan, kontes kecantikan dan lomba menjadi manajer buat anaknya. Program-program semacam itu, sekarang telah menjadi trend setter kehidupan remaja. Fakta berbicara, jutaan remaja bahkan didukung orang tuanya, telah berebut untuk join dalam seleksi audisi tersebut. Bagi yang lolos seleksi, maka akan masuk dalam tahap selanjutnya. Buat yang gagal, “jangan sedih, kita ketemu lagi tahun depan”, begitu kira-kira kata event organizer untuk menghibur.

So, Mabdamaze. Inilah yang menjadikan remaja semakin terpuruk. Lupa akan tujuan hidup sebenarnya. Belum lagi didukung dengan sinetron yang menampilkan kehidupan yang bebas dan matre. Sehingga, muncul pola pergaulan bebas, serba boleh, dan mengartikan kebahagiaan adalah dengan mendapatkan harta yang melimpah. Bahkan, tidak sedikit dari remaja yang menganggap peraturan itu diciptakan untuk dilanggar. Wuih, serem man! Dan inilah yang menjadi cita-cita Amerika dan negara barat lainnya, untuk mengembangkan peradabannya. Tentunya dengan ideologi kapitalisme yang mendudukkan materi sebagai tujuan hidup tertinggi, serta sekulerisme, yakni pemisahan aturan agama dari kehidupan. Ya, kalo kata Dewi Perssik, naik haji oke tapi goyang gergaji kudu lah. Orang ini buat mata pencaharian kok. Kalo bisa, goyangnya jadi goyang gergaji mesin. Apa mungkin di tanah suci, dia berdoa biar goyangannya bisa semakin seksi, ya? Hii.... naudzubillah deh! Atau menurut Ungu, Sembah sujud Pada-Mu Ya Allah, tapi punya Kekasih Gelap boleh, lah! Capek deh..! kalo menjelang bulan Romadhon, wah banyak tuh yang bikin album religi. Tapi menjelang bulan cinta Februari, gak sedikit artis yang bikin lirik seronok. Ga kebayang kalo bulan Romadhon kelak jatuh pada bulan Februari, bikin lagu doa biar dapet banyak pacar kali ya?!(gs)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar