Selasa, 13 April 2010

Andai Detik Dapat Berulang

Andai kita dapat berpergian menjelajah waktu, pastilah banyak diantara kita yang kembali ke masa kanak-kanak kita. So pastilah. Apa sih yang kurang ketika kita masih kecil ? Ketika kita masih imut-imut semua orang begitu sayang dengan kita. Papa, mama, om, tante, semua begitu gemas lihat penampilan kita. Belum lagi ketika kita lagi nangis di malam hari waktu bayi, semua orang di rumah ikut ribut. Kita mau mainan, pasti ada yang mbeliin.
Tapi bukan itu aja yang buat masa kecil itu begitu indah. Mulai dari main dengan teman-teman sebaya, sampai jalan-jalan dengan kedua oranguta. Pokoknya masa kecil itu bebas, lepas, tanpa beban, dan yang pasti bahagia banget.


Beda banget dengan kondisi kita sekarang. Setiap hari harus sekolah mulai pagi sampai sore. Belum lagi tugas-tugas yang makin hari makin banyak. Berbuat apapun gak bebas. Mau melakukan apapun mesti ngikut aturan negara, aturan sekolah, aturan keluarga, sampe aturan agama. Hidup kayak ribet banget.
Eitss, tunggu dulu. Sebelum kita menambah daftar panjang keluhan hidup kita ada baiknya kita ikuti tulisan-tulisan menakjubkan di bawah ini.
Hmmm..Kita mulai perjalanan ini dengan merenungi tentang masa kecil kita. Kita tentu sudah lupa masa-masa bayi kita. Tapi coba kita amati bayi-bayi disekeliling kita. Seorang bayi merasa sangat senang ketika diberi susu dikala haus, merasa senang ketika diganti popoknya ketika buang air. Sang bayi mungkin bisa tersenyum puas setelah tangis panjangnya, tapi coba kita lihat gimana perjuangan ayah dan bundanya. Sang ayah dengan terpaksa mengorbankan waktu tidurnya demi mengganti popok sang bayi di malam hari. Begitupula sang bunda yang rela mengorbankan segala kepentingannya untuk memberi susu dikala sang bayi haus dan menangis.
Kemudian masih ingat nggak kita dengan masa taman kanak-kanak kita ? Ketika kita meronta-ronta meminta sebuah mainan hingga akhirnya kita dibelikan oleh kedua orangtua kita. Atau ketika kita bercerita kepada kedua orangtua kita mengenai barang yang kita inginkan, kemudian beberapa hari kemudian kedua orangtua kita dengan senyum yang mengembang membawa barang yang kita idamkan. Rasa gembira seketika itu juga datang menghampiri kita. Akan tetapi ketika itu kita gak peduli dengan kondisi orangtua kita. Padahal ketika kedua orangtua kita membelikan barang yang kita inginkan itu harus mengorbankan barang yang ingin dibelinya.
Trus nih, masih ingetkan saat-saat membahagiakan ketika kita bermain bersama teman-teman dekat kita di sekitar rumah. Tentu ingat banget. Bahkan masih terbayang di benak kita wajah-wajah imut teman-teman sebaya kita. Tapi sadar atau pun nggak, banyak wajah-wajah cemberut yang mengelilingi kegembiraan kita waktu itu. Tanpa kita sadari ada nenek tetangga yang terganggu tidur siangnya akibat suara tawa kita yang membahana. Ditambah lagi kedua orangtua kita yang harus membersihkan bekas coretan-coretan kita di dinding.
So udah jelas kan. Dulu kita memang hidup dengan damai dan penuh kesenangan, tapi tanpa disadari banyak orang yang menderita demi senyum bahagia kita. Apa kita masih mau bahagia seperti masa kecil kita dulu ?
Tentu Sahabat semua pasti gak mau bahagia seperti itu. Bahasa kerennya bahagia di atas penderitaan orang lain. Tapi gak semua orang sebaik Sahabat yang lagi baca tulisan ini.
Kalau mau bukti liat aja kehidupan masa remaja saat ini. Gak sedikit yang datang ke sekolah dengan sepeda motor yang dimodif. Mulai dari knalpot yang bunyinya dapat dikenali dari jarak satu kilo sampai bentuk sepeda yang dibuat agar mata setiap orang tertuju pada sepeda tersebut.
Modif motor memang pekerjaan dengan biaya besar. Tapi gak jarang yang rela mengeluarkan biaya besar buat sang motor tercinta. Katanya sih untuk kepuasan pribadi atau bahkan agar bisa dikatakan keren.
Sikap seperti ini gak jauh beda dengan sika-sikap anak taman kanak-kanak. Ketika anak TK bahagia dengan mainan baru, mereka bisa bahagia dengan sepeda yang warna-warni. Dan parahnya lagi kalau anak TK itu masih belum tau betapa besar perjuangan orangtuanya untuk membelikan mainan, lha mereka itu juga ikut-ikutan gak sadar. Mereka sama sekali tidak peduli dengan perjuangan orangtua untuk mencari uang. Dan seperti mencontek tindakan anak TK yang suka pamer mainan ke temennya, merek juga suka pamer motor ke teman-temannya. Nah ini yang bahaya. Padahal gak semua orang di sekolah itu secara keuangan dikatakan mampu.
Sama juga dengan teman kita yang suka gonta-ganti hp biar gaya, menyemir rambut biar dikatakan keren, dan lain sebagainya. Padahal kalau kita lihat di Indonesia aja, para remajanya banyak yang belum beruntung. Banyak para ramaja seusia kita yang harus putus sekolah gara-gara tidak punya biaya. Belum lagi remaja-remaja yang terpaksa harus berbuat kriminil agar bisa mengikuti gaya hidup teman-temanya. MasyaAllah.
Itu masih di Indonesia aja. Coba kita tengok sedikit keluar jendela. Di luar sana banyak saudara-saudara kita sesama muslim yang masih menderita. Di Palestina para remajanya bahkan tidak pernah terpikir untuk sekolah. Di sana mereka tidak bisa berjoget ria dengan iringan lagu band favorit mereka. Musik paling indah disana adalah teriakan takbir diiringi suara desiran peluru dan ledakan bom. Suasana tak jauh berbeda juga dialami teman-taman kita di Afghanistan, Pakistan, dan beberapa negara lainnya.
Kita yang hidup di negara Indonesia yang damai dan sekarang masih dicukupkan rezekinya mungkin masih bisa tersenyum saat ini. Tapi apakah enak bila kita tersenyum bahagia disaat ada teman kita yang menangis sedih di perempatan jalan.
Tentu tidak. Coz gak ada yang namanya bahagia kalau gak bisa dibagi. Bayangin aja kalau kita habis juara, tapi seluruh teman dan keluarga kita malah nangis semua. Pasti kita jadi salting atau bahkan ikut-ikutan nangis tanpa sebab. Maka gak enak kalau kita bahagia dan tertawa sendiri. Bisa dikira gila lho.
Lha terus gimana caranya biar kita bisa berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang masih menderita ? Tentu saja hal itu gak akan bisa didapat hanya dengan duduk-duduk sambil membayangkan indahnya masa depan. Apalagi hanya berharap ada mesin waktu yang dapat membawa kita ke masa depan.
Pastinya ketika kita ingin berbagi kebahagiaan kita pasti harus ada yang dikorbankan. Ibu dan Bapak kita dengan senang hati mengorbankan segala keinginannya, segala hartanya demi melihat senyum manis sang buah hati. Semuanya dikorbankan hanya untuk bisa tertawa bersama sang anak tercinta. Sama juga dengan kita sekarang. Ketika kita ingin berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang lain, maka harus ada yang dikorbankan.
Semua hal bisa kita korbankan dalam hidup. Mulai dari harta, tenaga, pikiran semua dapat menjadi korban untuk membayar tawa saudara kita. Nah selain harta atau tenaga, kita juga dapat mengorbankan keinginan kita. Caranya adalah dengan mengerem segala aktivitas dengan mengikuti aturan yang ada terutama aturan Islam.
Kalau dilihat dari jauh, aturan islam tu memang kelihatan berat, susah, dan membuat orang gak bebas. Tapi kalau dilihat dari deket ya gak gitu-gitu amat. Aturan islam memang membuat orang gak bebas, tapi itu ada maknanya. Coba kalau kita hidup tanpa aturan yang mengikat. Pastinya kehidupan akan kacau balau. Contoh paling mudah ya kehidupan kita saat ini. Setiap orang berusaha mendapat kebahagiaan tanpa peduli orang lain bahagia ato malah menderita. Maka dari itu Islam hadir untuk mengontrol kehidupan kita. Jadi semua aturan islam itu ada agar kita bisa bahagia tanpa membuat orang lain menderita.
Jadi hanya dengan menjalani aturan Islam dengan utuh kita bisa berbagi tawa dengan saudara-saudara kita yang lain. Dan pastinya menjalani aturan islam itu butuh pengorbanan yang gak sedikit. Perlu niat kuat dan kesabaran yang tinggi. Mulai sekarang hilangkan segala keegoisan kita, mulai bagikan tawa dan bahagia pada saudara-saudara kita yang berada di sekeliling kita.
Ingat. Dalam hidup ini kita bisa mendapatkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dan kita hanya bisa mendapat satu diantara ketiganya. Kita bisa memilih berkorban demi mendapatkan ilusi masa lalu, berkorban untuk kepentingan diri kita saat ini, atau berkorban untuk mencapai masa depan. Maka mana yang ingin kita raih ? [gs]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar