Rabu, 07 April 2010

Behind MADING SCHOOL

KRIINGGG……bel istirahat nyaring berbunyi, segera aku dan beberapa temanku lari keluar kelas. Ketika sampai di salah satu lorong sekolah, langkahku terhenti sejenak. Kulihat kerumunan siswa layaknya antrean bioskop.
“Eh nggak taunya mereka lagi nampangin MADING SCHOOL“ gumamku. Tapi nggak seperti biasanya, MADING SCHOOL kali ini menjadi sorotan utama temen2, “Lha wong biasanya Cuma sebagai hiasan dinding aja kok..” tambahku penasaran. “Apa ada kasus mutilasi ya?? ahh kalo ada mungkin ya mutilasi nyamuk, emang akhir-akhir ini banyak nyamuk DB sich di ruang LAB.” ujarku dalam hati.
Tanpa pikir panjang kali lebar kucoba melempar manggis eh kucoba dekati kerumunan itu. Karena banyaknya siswa yang ingin melihat MADING dan berdesak-desakan maka kutanya saja pada salah seorang dari mereka.


“Maaph mbak sedang liat apaan sich kok antusias banget gitu? ^_^” tanyaku ramah.
“Mbak.. emang gue apaan?? nih gue Badrun, mentang2 gue belon potong rambut.” Tukas Badrun anak kelas 2BAHASA sambil cemberut.
“Eh lo..Drun soory aja, gue kira lo Marshanda mantan gue……hehehe3x”
“ Lo belon tau Rid, kalo di MADING lagi ada rubrik baru, edisi bulan ini ada polling maut” jelas Badrun sambil menunjuk ke arah MADING.
“Polling maut apaan?? Rekor penjualan jus di warung Mak Ijah??”
“ AAhhh…. elo ini pemuda kurang informasi alias PKI, rekor itu khan udah 3 bulan yang lalu. Ini polling beda Rid, lho liat tu nama guru2 yang kepampang di MADING” Badrun mengajakku mendekat ke MADING.
“ Lho ini kan guru2 kita Drun? kok dikasih rating kaya artis yach??”
“ Gue khan udah bilang tadi, kalo ini beda maasss…polling ini menentukan guru siapa yang terkategori paling tidak disenangi dan paling ditakuti!!! Hiiiii” ujar Badrun si anak gondrong.
“Oooo…”
“O itu bulet Rid, Eh ngomong2 lho apa udah ngisi polling itu dari anak-anak MADING?” tanya Badrun santai.
“Ngisi?? buruan ngisi dapet aja nggak??” “…….Astaghfirullah”
“Emang kenapa? ini khan baru namanya DEMOCRAZY ups demokrasi, transparansi, proporsional dan signifikan??“ jelas Badrun sambil menggerak-gerakkan bahu dan tangannya.
Lalu aku dan temanku yang antusias melototi Mading ini kuajak ke warung Mak Ijah, “Ku traktir Drun!!“ tawarku agar dia mau. Sesampainya di warung Mak Ijah segera kupesan 2 gelas jus “alpukat mocca“ jus dengan rekor penjualan terlaris di sekolah.
“Sruput...ahhh suegerrr!!!makasih ya Rid!! lo mau ngomong apaan Rid kok bawa2 traktiran segala??“ tanya Badrun sambil mengaduk jusnya.
“Drun jujur saja sebenarnya gue nggak suka sama yang namanya DEMOKRASI, lo tau khan What the mean of DEMOCRAZY?“ tanyaku ngetes ke dia.
“ Demokrasi itu intinya kedaulatan di tangan rakyat, dengan suara terbanyak dan kesepakatan mayoritas suatu hukum disetujui. Gituu” Badrun bersemangat.
“ 100 buat Badrun. Nah ini kelemahan Demokrasi Drun, suara terbanyak!! bayangin drun, kebenaran dan keadilan versi demokrasi sifatnya relatif ato bisa dibilang sesuatu yang benar tergantung kepada pendapat banyak orang.“
“ Sruputtt.... Contohnya??“ Tanya Badrun.
“ Guampang banget Drun, contoh kasus polling guru tadi…dengan suara terbanyak kita langsung jadi tau siapa guru yang Killer alias ditakuti. Padahal nggak semua sifat keras dari guru dinilai sebagai hal yang merugikan muridnya”
“Satu contoh lagi Drun, selama ini Demokrasi sepenuhnya nggak berhasil diterapkan di dunia. Coba lo liat di televisi atau browsing aja di internet, kala itu AS (Amerika Serikat) yang hobbinya gemar kampanye penegakan demokrasi eh malah menjadi negara besar pertama yang melanggar sendiri demokrasi. Di saat rakyatnya menginginkan kedamaian di dunia. Lek Bush beserta kawan2nya tetap menginvansi (invansi: menjajah, mengeksploitasi, menyerang) Irak dan Afganistan. Lha kalo gitu gimana hayo?? ^.^”
“ Sebenarnya Demokrasi cuma dijadikan alasan untuk meraih tujuan terselubung persisnya kita dibuat kabur dan nggak jelas mana yang benar dan mana yang salah, karena sekali lagi kebenaran berdasar suara mayoritas.”jelasku pada Badrun yang khusuk mendengar ceramahku.
“Waahh GASWAT eh GAWAT itu Rid. Kalo kita tau demokrasi seperti itu, apa solusi alternatipnya?? Sruupuuutt“ tanya Badrun penasaran.
“ Nggak usah jauh-jauh Drun, untuk cari solusinya pake aja Quran dan tuntunan Rosulullah Muhammad Saw. Bisa dibuktikan bahwasannya Islam mengatur tentang kehidupan kita dari segala aspeknya. Bahkan untuk membuat Jus alpukat mocca pun ada aturannya.“ sambil kusampaikan potongan ayat
“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.“
“ Nggak mungkin Allah Swt menurunkan Al Quran yang didalamnya tidak mengatur tentang kehidupan ini, itu namanya Hil yang Musatahal maksudnya Hal yang mustahil.^_^“ tambahku.
“ Berarti kita kudu ngaji nih, biar tau mana yang salah dan mana yang benar?!!“ Badrun menyimpulkan sambil memegang erat gelas jusnya.
“Thats Right Brother!!“ balasku.
Jus alpukat mocca bener-bener cocok menemani dialogku dengan Badrun saat itu. Kami pu beranjak memasuki kelas dan berencana menyusun artikel tentang Kelemahan Demokrasi dan Islam sebagai solusi hidup di MADING SCHOOL. Tentunya dengan 4 bahasa yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan Indonesia karya Badrun dan temen2nya.
(gs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar