Selasa, 06 April 2010

Makna pilu sebuah janji palsu

Suatu siang,di tengah tengah kesibukan kota, di samping perempatan lampu merah kota Malang, terlihat dua orang bocah, Gito dan Aan yang sedang sibuk memelototi lembaran koran yang mereka bawa. Memang keduanya adalah penjaja koran “pagi” di kota itu.
“ Berapa To koranmu yang udah laku?” Tanya Aan.
“ Alhamdulillah….dari 15 yang kubawa udah terjual 8 lembar…”sahut Gito sambil menghitung kembali lembaran-lembaran koran yang dibawanya.
“ Aku juga To…koranku laku banyak pokoke!! Ya, beruntunglah hari ini nasib baek memihakku.”
“ Nasib?? Nasib yang mana An?? Kalo aku pikir koran pagi ini emang temanya menarik sich! Coba kamu liat! Headlinenya aja ngomongin kita lho..” terang Gito kepada teman seperjuangannya.
“ Tema yang mana?? Ngomongin kita? Emang kita personel Kangen Band yang mau konser di Hongkong? Ta'ban dech…” cerocos Aan.
“ Ah lo itu gimana sih? Ini, baca deh. Orang Miskin Di Indonesia tambah buanyak!! Kita kan ORANG MISKIN. Jadi berita koran pagi ini intinya menceritakan hidup kita, heh..emang bener kita ngga' kalah tenar lho dengan Luna Maya ato Kangen Band tadi.”jelas Gito sambil menunjukkan koran tersebut kepada Aan.


“ Miskin!!! Kita miskin??!!” teriak Aan tiba-tiba.
“ Sabar dulu An, emang sich kita miskin. Cuman nggak harus gitu cara ngresponnya..
Kita seperti ini juga karena ngga' ada pilihan laen. Elu masih ingetkan janji Pak Wali? Katanya sekolah gruatiss tis, nyatanya skarang belum juga gratis. Kalo sekolah aja yang penting susahnya dijangkau kaya gitu, trus bagaimana dengan kebutuhan lain yang lebih penting? Kaya nyari makan misalnya?” Gito nggak mau kalah.
Siang bertambah panas, terik matahari begitu angkuhnya memayungi kota Malang saat itu. Seakan tak peduli dengan celoteh dua anak yang sedari tadi setia menunggui lampu merah.
Aan membuka kembali dialognya setelah mondar mandir menjajakan korannya. “ To! Tapi aku berpendapat laen.”
“ Pendapat apa An?” Tanya Gito penasaran.
“ Orang-orang penting di negeri ini, sebut aja Pemerintah ternyata konsekuen dengan janjinya, lho!” Jawab Aan.
”Hah, konspermen? Makanan apa tuh? Oalah An, kamu kan tau kalo aku ini orang ndeso. Kalo ngomong pake bahasa yang sepesipik aja, lho!” timpal Gito kebingungan.
”Bukan konspermen, tapi konsekuen. Artinya, pemerintah bisa memegang perkataan plus janjinya, gitu lho!” terang Aan yang tidak sependapat dengan Gito, tentang penilaiannya terhadap Pemerintah.
“ Lho aku jadi ngga' mudeng, bukannya tadi udah tak bilangin kalo kita ini korban, pendidikan mahal, beli makan juga mahal? wes pokoke betul katamu tadi, pokoknya NASIB!!” sangkal Gito.
“ Ta' ban Dech…masa' kamu nggak tahu tuh ada pasal waktu kita hapalkan saat tahun kedua sekaligus yang terakhir di SD?” Aan menimpali.
“Hah, pasal yang mana ya, An. Aku udah lupa, maklum udah enam tahun kita nggak makan bangku sekolah lagi.” Jawab Gito, sambil mengenang saat mereka berdua harus dikeluarkan dari sekolah gara-gara nggak mampu bayar SPP.
“Itu lho, To. Pasal 32 yang menerangken “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Terang Aan sambil berdiri mengikuti gaya Pak Lurah berpidato.
“ Terus hubungannya dengan pemerintah memegang janjinya apa? Toh, sekarang fakir miskin dan anak2 terlantar makin menjamur plus jamuran gara-gara gizi buruk?” Tanya Gito menyela.
“ Lha iya..Pemerintah memelihara fakir miskin itu artinya, Dijaga dan dilestarikan biar tambah banyak dan terus berkembang. Permisalannya kita memelihara tanaman, jelas donk untuk bisa tumbuh subur dan tetep ada harus dipelihara dengan baik. He hehe…” Aan gokil jadinya.
“Wah, kalo ini aku sepakat sama elo, An! Ya baguslah, paling tidak pemerintah masih peduli dan bangga dengan keberadaan kita. Setidaknya, di luar negeri, pemerintah masih bisa membanggakan jumlah orang melarat yang sangat banyak. Tapi ngomong-ngomong An, walaupun semakin hari kita semakin terkenal, tapi kita kok nggak kaya-kaya ya? Beda kaya' grup band-grup band sekarang. Mereka terkenal, masuk tipi terus dapet uang. Kalo orang miskin, tiap kali ada acara berita di tipi, selalu muncul. Tapi kok nggak pernah dibayar, ya?” Terang Gito dengan polosnya.
”Oalah To, ya bedalah. Mereka yang terkenal dan bisa jadi kaya itu awalnya memang udah disponsori oleh pihak-pihak tertentu. Terus mereka dibayar untuk tampil menghibur penonton televisi. Nah, kalo kita nggak lain dan nggak bukan, lagi-lagi cuma jadi korban belaka. Dengan maraknya kemiskinan yang makin merebak, pemerintah mencari pinjaman sana-sini dengan menjadikan kita dan orang miskin lainnya sebagai alasan.” Jelas Aan.
Kemudian Aan kembali membuka lembaran koran yang sedari tadi ditentengnya dan kembali memberi penjelasan kepada Gito,”Nih, kalo ga percaya. Disini dikatakan, pemerintah sudah mendapatkan pinjaman dana segar sebesar 13 Triliun Rupiah. Tapi ternyata, uang sebanyak itu nggak pernah ada realisasinya. Tau nggak, arti realisasi? Artinya, pinjaman tersebut nggak pernah terlihat wujud nyatanya. Parahnya lagi, uang sebesar itu, hanya dinikmati oleh beberapa gelintir orang saja. Tapi ternyata pemerintah nggak sekedar dapet pinjeman doang. Mereka punya yang namanya kontrak politik. Jadi, setelah pinjem duit, pemerintah harus memenuhi permintaan debitornya. Misalnya aja dengan menanamkan modal di perusahaan-perusahaan di negeri kita. Dan ini sudah terbukti, hampir semua kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak memihak rakyat. Tapi cuma memihak orang-orang berduit.”
”O, gitu ya! Ternyata ada ya, bapak-bapak kita yang nakal seperti itu? Tapi kan, enak kalo banyak yang menanam modal disini, berarti peluang kerja akan semakin besar. Jadi kita bisa memperbaiki nasib kita?” Gito menanggapi. Nampaknya kali ini, dia semakin mudeng.
”Waduh, ta'ban deh! Tau nggak To, dengan adanya penanaman modal asing disini, kita bakal makin kesusahan. Soalnya harga-harga jadi tambah mahal. Contohnya aja, harga minyak yang semakin meroket. Akibatnya, dampak kenaikan BBM merambat kemana-mana, termasuk harga sembako yang juga naik. Apalagi, sekarang ada gagasan untuk membuat energi alternatif dari bio-etanol, yang bahan bakunya adalah beberapa bahan pangan pokok, seperti jagung, singkong dan lain-lain. Setelah itu, bahan makanan bakal jadi langka, habis gitu harga naik. Nah, inilah kesempatan pihak asing untuk mengimpor produk-produk mereka ke negeri ini, malah dengan kualitas yang lebih bagus dan harga murah. Akhirnya, produk lokal nggak akan diminati karena harganya mahal. Setelah itu, petani akan rugi. Ujung-ujungnya, kita lagi yang kena dampaknya.” Wajar, jika Aan lebih banyak tahu tentang masalah ini. Maklum, sambil berjualan dia juga menyempatkan waktu untuk membaca koran yang akan dijual.
”Wih, ternyata kamu pinter banget ya, An? Aku bangga lho, punya temen yang walaupun cuma penjual koran, tapi otaknya encer seperti kamu! Oiya, tadi ada yang belum kamu jawab. Gimana dengan peluang kita kerja di perusahaan asing itu?” Gito semakin ingin tahu.
”Enak aja, bilang otak gue encer, otak gue itu padat dan masih tersimpan di dalam tengkorak kepalaku! Tapi, karena kamu udah ngefans sama aku, akan aku jawab pertanyaan kamu. Gini, To. Mereka itu kan kerjanya profesional banget, tentunya tenaga kerja yang mereka ambil adalah orang-orang yang terdidik dan terlatih dalam bidangnya masing-masing. Nah, kalo kita mau jadi pegawainya paling-paling cuma jadi pegawai rendahan aja. Lha wong, sekolah aja kita cuma sampai S2 alias SD kelas 2. Kita nggak bisa sekolah kan, gara-gara pendidikan mahal. Ya tetep aja, kita jadi korbannya. Cuma cara yang mereka gunakan lebih halus, jadi seakan-akan kita nggak merasakan kalo kita udah ditipu habis-habisan.” Jelas Aan panjang kali lebar sama dengan luas.
”Ooo, jadi gitu ya! Jadi sama aja donk, orang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya, bener nggak An? Seperti Popeye mati di ladang bayam ya? Negeri kita punya banyak kekayaan alam, tapi nggak sepadan dengan keadaan kita yang selalu kekurangan. Gimana menurut kamu, An?” kali ini Gito semakin paham.
”Wah, ternyata kamu udah ketularan virus pinterku To?! Ya, bener banget yang kamu katakan. Ya ginilah keadaannya, kalo manusia sok pinter. Semua-semua maunya bikin aturan sendiri. Padahal manusia kan bodoh. Bahkan nggak ada seorangpun didunia ini yang bisa melihat kedua lubang hidungnya tanpa menggunakan alat bantu. Nah, gitu aja udah sombong. Suka semau udel dan perutnya sendiri. Lha wong sebenernya, manusia kan udah diberi petunjuk oleh Allah dalam hidup. Tapi kenapa kita nggak mau pake aturan Islam aja? Emang ada, orang Islam yang meragukan kehebatan-Nya. Kalo udah mengakui kebesaran dan kehebatan-Nya ya udah, manut aja (baca:menurut saja red.) sama Allah, gampang kan?” Sekali lagi Aan menjelaskan dengan serius.
”We'e'e'e.... ternyata kamu itu emang temenku yang paling pinter, euy! Iya, ya. Kok selama ini aku nggak sadar, kalo udah punya agama yang komplit plus luar biasa ini. Ya wes, mulai sekarang aku bakal belajar Islam supaya bisa mengajarkan sama adik-adikku dan orang yang lain. Oke, An!” Jawab Gito sambil mengakhiri dialog hangat siang itu.
Sinar mentari kian memudar, dan lembayung senja yang makin merona mengantarkan dua orang sahabat itu berjalan untuk menyetorkan hasil penjualan koran mereka masing-masing.
”Oiya An, dari tadi kamu bilang ta'ban, ta'ban melulu. Emang apa seh, artinya ta'ban itu? Itu bahasa Perancis atau Portugis? Aku nggak mudeng!” tanya Gito.
”Oo, ta'ban itu artinya capek. Itu berasal dari bahasa Arab. Jadi waktu aku bilang ta'ban deh, itu artinya capek deh, gitu To!” jawab Aan.
”Lho bukannya capek itu uang seratus perak?” Gito kembali bertanya.
“Itu mah, cepek To! Kamu lupa ya? Aan menjawab dengan sabar.
”kalo cepek itu kan, model potongan rambut yang pendek banget itu?” Gito mulai ngelantur.
”Dasar Gito, otaknya nggak stabil. Kadang naik, kadang turun.” Aan menimpali dalam hati.[gs]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar