Minggu, 11 April 2010

Pergi, dan Jangan Kembali

Hmm.. jadi inget lagunya Cokelat nih, ”pergi, cepat pergi! Jangan, jangan kembali. Tinggalkan ku sendiri, memang lebih baik begini!” eits, sudah Sobat jangan nyanyi terus! Ga sadar ya, kalo suaranya fals en ga bisa jaga pitch control? Iya deh, sory. Emang suara kamu koq yang paling bagus, suaranya Sobat memang jelek. Puas! Udah, cukup berantemnya. Kita kembali ke jalan yang benar. Ngomong-ngomong tentang judul diatas, muncul sebuah pertanyaan. Emangnya siapa sih, yang disuruh pergi? Ah, paling-paling pacar. Kalo ga gitu TTM ato jalinan HTS alias Hubungan Tanpa Status. Iya, kan? Lagi-lagi bahas soal pacaran dan pergaulan. Basi, tau nggak Sobat! He..he.. sabar dulu donk, pren. Tapi betewe, O'o Sobatyah ketahuan. Koq kamu tahu? Emang kamu yakin kita bahas masalah itu? Oke sebelum kita jelasin, kita ikuti dulu pesan-pesan berikut ini.
Ada yang datang, ada yang pergi. Kira-kira begitulah ungkapan pepatah. Ada senang, ada susah. Itu mah udah pasti. Jika sesuatu yang mengasyikkan itu datang, kemudian kita senang, itu juga sudah wajar. Tapi seandainya keindahan itu pergi, itulah yang luar biasa. Maksudnya? Sabar dulu pren, biar kita terusin dulu ngomongnya.
Alkisah hiduplah dua orang sahabat. Sebut saja, Odah dan Odeth. Saat bulan Romadhon kemarin, kedua dara cantik ini menghabiskan waktu bersama. Mulai dari sahur bareng, buka bareng, sholat tarawih bareng hingga tadarus Al-Quran juga dilakukan bersama-sama. Seandainya dikompetisikan, aktifitas ibadah kedua sahabat ini saling susul menyusul. Singkatnya mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Pun demikian juga ketika mereka merayakan Idul Fitri. Opor ayam dan ketupat dimasak dan dimakan bersama-sama. Silaturahim kepada sesama, lagi-lagi dilakukan bersama.
Namun betapa terkejutnya ketika Odah menyaksikan sahabatnya, Odeth menanggalkan kerudungnya seminggu setelah lebaran. ”Romadhon kan udah selesai,nah sekarang aku bisa beraktifitas lagi seperti biasanya.” begitulah kata Odeth, sambil membiarkan sahabatnya menelan ludah satu liter karena keheranan. Tanggapan Odeth itu seakan menunjukkan kegirangannya setelah Romadhon telah meninggalkannya. Maklum, doi mempunyai aktifitas sampingan sebagai seorang model. Setelah Odah melakukan cek n ricek, ternyata Odeth sahabatnya, mengenakan kerudung dan beribadah dengan khusyu' karena ingin menjiwai dan meresapi bulan yang penuh rahmat tersebut. ”Ya, mumpung Romadhon. Kalo diluar bulan Romadhon, aku kan sibuk, en ga mungkin pake kerudung. Soalnya aku kan model, jadi nggak mungkin kan? Kalo pake kerudung, aku kan ga bisa jadi model lagi. Wah, apa kata dunia?” jelas Odeth, yang kali ini membuat Odah bener-bener paham.
Odeth, dan Odeth-Odeth yang lain beranggapan bahwa bulan Romadhon adalah saatnya untuk berpakaian lebih sopan, khatam Al-Quran dan mengurangi jatah diapelin oleh pacar masing-masing. Bagi mereka, bulan Romadhon hanya sebagai hiasan yang bisa dipakai dan ditanggalkan setahun sekali. Dan yang lebih parah lagi adalah anggapan bahwa Islam hanya ada di dalam masjid, majelis ta'lim, kontes MTQ pemilihan Da'i dan pengajian di TV saja. Diluar itu, sah-sah saja jika manusia berbuat sesuka hati. Nah, kalo udah seperti ini muncullah fenomena STMJ alias Sholat Terus, Maksiat jalan. Atawa yang terbaru, TOPI yang kepanjangannya Tadarus Oke, Pacaran Iya. Sungguh terlalu!
Emangnya kenapa sih, kalo sebagai remaja kita berbuat agak bebas? Ya, secara gitu lho, kita kan butuh refreshing, hiburan, kesenangan, pokoknya yang asyik-asyik gitu! Nah, kalo kita ikut Islam terus, ntar kemana-mana disuruh pake peci, kalo yang cewe harus pake kerudung n jilbab. Padahal kita udah mahal-mahal beli shampo anti ketombe n bikin rambut berkilau. Kalo ditutupin terus, percuma donk ga ada orang yang bisa ngeliat?! He..he.. sabar dulu neng, udah selesai demonya? Kita lanjutin lagi. Emang ga bisa dipungkiri, masa remaja adalah masa yang paling bahagia. Secara gitu loh! (hii..hii..ikut-ikutan padahal ga ngerti artinya secara>_<). Bahkan ada lagu yang sangat populer menceritakan bahwa darah muda, darahnya para remaja. Jiwa yang sedang tumbuh ini lagi semangat-semangatnya mencari arti hidup. Saking semangatnya, semuanya ditabrak, untuk pengalaman katanya. Mulai dari minuman keras, pacaran sampe yang lebih jauh, rasanya wajib untuk dicoba. Oke deh, kalo sekedar cari pengalaman sih boleh-boleh aja, tapi kalo hanya karena alasan tersebut badan kita jadi bonyok dimana-mana, atau nasi udah menjadi bubur dan tepung udah jadi rempeyek, ini yang bermasalah. Daripada nantinya terperosok, ada baiknya kan kalo kita belajar dulu tentang sesuatu sebelum melakukannya. Nggak usah alergi dulu kalo denger kata-kata Islam, pengajian, fiqih dan lain-lain. Seperti kata Raffi Achmad dan Ayushita,”Jangan bilang tidak, bila kita belum mencoba...” tapi bukan asal semua hal langsung dicoba lho, ya! Nah untuk yang satu ini, ikuti saran penulis yang suaranya nggak kalah bagus dari Raffi Achmad,”Jangan bilang iya, bila kita belum belajar...” tuh kan! Ternyata fren, kalo kita mau membuka kepala (tapi jangan pake obeng atau palu lho, ya!) atau kata lainnya mau belajar, akan kita temukan bahwa Allah swt. telah mengatur segalanya dengan begitu baik, sehingga semua peraturan yang Dia berikan bersama Islam mulai dari A sampai Z dan dari 0 sampe 9, ternyata sangat sesuai dengan semua kebutuhan dan fitrah manusia. Kalo nggak percaya, teliti aja sendiri. Mulai dari bangun tidur, sampe mau tidur lagi semua aturan ada dalam Islam. Masih ga percaya? Mari kita buktikan. Menurut definisinya (waduh, opo maneh iku?!) Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw. Melalui perantara malaikat Jibril yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya dan manusia dengan sesamanya. Hmmhhh... bentar ambil nafas dulu! Artinya, semua hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia telah diatur oleh Allah swt. misalnya, ketika bangun tidur, kita diajarkan untuk membaca doa. Hayo, siapa yang tadi pagi nggak baca doa? Kemudian saat akan masuk toilet kita juga disuruh untuk berdoa. Setelah itu mau BAK (Buang Air Kecil) hingga BAB (nyang ini yang besar) semua ada caranya. Kemudian tata cara kita berpakaian juga ada aturannya, misalnya laki-laki harus menutup auratnya mulai pusar hingga lutut, kemudian wanita wajib mengenakan jilbab dan kerudung. Ini baru aturan tentang diri kita pribadi. Untuk beribadah kepada Allah, Islam juga mengaturnya. Bagaimana cara sholat, puasa, zakat dan lain-lain. Untuk berinteraksi dengan sesama, Allah juga memberikan kita peraturan. Contohnya, pergaulan antara laki-laki dan wanita, terus jika kita mengadakan jual beli. Wes, pokoknya komplit. Top Markotop, deh! Terus Sobat, yang disuruh pergi di paragraf awal itu siapa sih, dah ga sabar nih?! Untuk pertanyaan itu, ntar pasti kita jawab. Tapi Commercial Breaknya masih belum selesai. Jadi sabar dulu, ya. Kita kembali ke shaf yang rapat dan lurus (emangnya lagi sholat!). Sebagai seorang muslim dan muslimah, sudah selayaknya kita menyerahkan semuanya kepada Allah. ”Hidup matiku, adalah kuasa-Mu!” begitulah kata Pasha Ungu. Yakinlah bahwa apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kita adalah yang terbaik. Ketika Allah memerintahkan seorang cewe untuk menutup aurat, dan lebih memilih pake baju you can see, you can touch sampai you can thing, di suatu saat dan kondisi, pakaian yang seperti ini dapat menimbulkan fitnah. Bayangin aja, kalo Bunga Citra Lestari mengenakan pakaian seperti itu di Mall. Wah pasti semua mata tertuju padanya. Terus, seandainya pakaian seperti ini dikenakan oleh mbok Sumi penjual sayur yang tiap pagi lewat didepan rumah kamu, wah jangan dibayangin lagi. Pokoknya parah, bro! Nah, kalo para wanita mengumbar auratnya seperti ini, bukan tidak mungkin naluri lelaki para pejantan tangguh akan meluap-luap, dan pasti endingnya yang dirugikan adalah wanita, tul ga? Belum lagi dosa yang harus ditanggung seorang wanita yang melakukan mal praktek dalam berbusana. Karena saat seorang wanita sengaja mempertontonkan auratnya kepada laki-laki, selain dia berdosa atas tindakannya, doi juga ikut menanggung dosa lelaki yang meilhatnya. Tapi jangan mentang-mentang seperti itu, lantas seorang pria sah-sah saja memelototi aurat wanita yang tidak halal baginya. Setali tiga uang, Bro. Kita semua tahu jika setiap manusia memiliki naluri dan kebutuhan biologis yang harus ditunaikan. Tetapi bukan lantas kepengen sesuatu, kemudian bertindak semaunya sendiri, sebab Allah telah memberikan akal buat manusia. Dan ternyata akal lah yang membedakan antara kita dengan hewan. Seandainya seekor sapi jantan udah nepsong dengan betinanya, nggak masalah dia meu eh mau melakukan itu dimanapun. Dan jika di dunia ada seekor sapi yang berkenan menggunakan celana hot pants, rok mini dan tank top kemudian berdiri di tengah lapangan, nggak akan ada orang yang mengatakan ”dasar sapi ga tau malu!” atau ”dasar, sapi nggak punya harga diri!” yang ada paling-paling, ”Siapa sih yang punya sapi ini, udah gila ya?” Artinya, nggak masalah ketika seekor sapi bertingkah yang aneh-aneh dan nggak bisa diatur, lha wong namanya aja sapi! Bagaimana seandainya seorang manusia yang nggak bisa diatur, seenaknya dan semau udelnya sendiri dalam melakukan sesuatu? ”wah, kalo ini namanya orang aneh. Udah punya akal, diberi aturan oleh Allah, tapi tetep ga mau denger. Apa mau, disamain seperti hmm.. nggak jadi wes. Pokoknya sama. Terserah mau disamain seperti apa. He..he..!” Setelah mata kita telah terbuka oleh kenyataan bahwa hanya Islamlah yang bisa mengatur segalanya, dan menyadari keterbatasan kita, sudah selayaknyalah kita ubah haluan, tuk kembali kepada agama ini. Tenang aja bro n sis, nggak ada kata terlambat untuk meminta ampunan kepada Allah atas apa yang telah kita lakukan di hari-hari yang tlah lalu. Jika di bulan Romadhon, kita bisa mengusir godaan syetan dan bisa mengendalikan hawa nafsu kita serta lebih mendekat kepada Allah, bukan tidak mungkin di bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya kita bisa jadi orang yang lebih baik. Jika di bulan Romadhon, kita sukses mengusir jauh kemaksiatan dari diri kita, mulai hari ini dan seterusnya, tempelkan stiker yang bertuliskan ”Maksiat dilarang masuk”. Hee..hee... emang kamu pintu, bisa ditempelin stiker. Yee, bukan begono maksudnya. Kok masih belum mudeng, to? Gini lho, kalo kemarin kita bisa menahan diri untuk nggak berbuat maksiat, sekarang harusnya lebih bisa lagi. So, selamat jalan maksiat, selamat datang taubat! Setuju, akur kan?[gs]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar