Jumat, 09 April 2010

Sebuah Perjalanan....

Bagaikan burung-burung yang terbang di udara dengan bebasnya, manusia memiliki kehendak untuk hidup sesuai dengan yang diinginkannya. Entah sang manusia ingin menggunakan sayap yang dimilikinya untuk hinggap di gunungan sampah yang mengemisikan molekul-molekul yang menusuk indra penciuman ataukah ia akan menggunakan sayapnya untuk terbang menembus lapisan atmosfer tertinggi. Dengan sayapnya pula, ia dapat menerjang badai dahsyat yang menghadangnya atau tertidur dengan kehangatan di balik bulu-bulunya. Semuanya menjadi pilihan dan keputusan yang bisa diambil dalam kerlingan mata atau dalam jangka waktu yang lama hingga sel-sel rambut kehilangan pigmennya.
Allah telah menempatkan dan memilih manusia sebagai organisme tingkat tinggi yang tinggal di permukaan bumi dengan berbagai kemulian yang lebih utama dibandingkan makhluk lainnya. Bahkan manusia dilahirkan di dunia setelah malalui proses yang panjang dan melelahkan serta harus menyingkirkan pesaing-pesaing lainnya untuk dapat hadir di alam dunia ini. Ditambah lagi ia dapat berjalan dan beraktivitas di atas lempeng bumi dengan keunikan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia yang lain. Sehingga hadirlah manusia dengan segenap kelebihan dan keistimewaannya untuk menjalankan lakonnya masing-masing sebagai wakil Allah di muka bumi ini.
Peran seorang bani Adam bukanlah suatu hal yang main-main dan remeh. Ia memikul beban yang luar biasa berat yang tidak dapat dipikul oleh makhluk-makhluk lainnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui hal tersebut dan bahkan melupakan sebagian besar kemampuan dan kewajibannya. Padahal apabila ditelisik, manusia bukanlah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Coba saja tengok rekor Muri atau yang lebih mantap lagi silahkan mengobrak-abrik dunia maya untuk mencari tentang orang-orang yang “aneh bin ajaib” pada Guinness Record Book. Di sana kita pasti akan menemukan berbagai macam polah dan kemampuan yang bagi kebanyakan orang dianggap suatu hal yang mustahil untuk direalisasikan. Sesuatu yang dianggap tidak dapat dicapai dengan kemampuan seorang manusia biasa, dapat ditaklukan oleh orang-orang yang tidak memiliki pemikiran seperti kebanyakan orang.
Hanya saja untuk menemukan dan memahami potensi dan anugerah yang telah tertanam di dalam diri seorang manusia merupakan suatu perkara yang gampang-gampang sulit. Di samping itu untuk benar-benar menjadi orang yang mampu memanfaatkan serta mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki membutuhkan usaha yang tidak setengah-setengah.
Telah terbukti dari kisah-kisah orang sukses yang mampu mengolah dan meracik kemampuan serta kemauan mereka menjadi senjata andalan mereka untuk menyelami kehidupan ini tidak hanya dibutuhkan waktu yang cukup lama tetapi juga membutuhkan mentalitas baja dan pantang menyerah.
Hidup digambarkan bagai seseorang yang melakukan perjalanan melewati suatu gurun pasir yang luas. Ia telah membawa bekal selengkap-lengkapnya serta mengajak seorang pemandu jalan yang ahli dan mengenal baik gurun tersebut. Kemudian di suatu siang, di tengah-tengah perjalanannya, terjadilah badai gurun yang memporak porandakan perjalanannya. Ia kehilangan sebagian besar bekal, kendaraan, dan juga pemandu yang ia sewa terpisah darinya sehingga ia harus dapat keluar dari gurun tersebut dengan kemampuannya sendiri. Apabila ia memilih untuk menunggu bantuan datang sementara bekal yang menemaninya hanya cukup untuk beberapa hari, pastilah ia akan mati karena kelaparan. Tetapi apabila ia berjalan dan berusaha untuk mencari jalan keluar ia akan tersesat di tengah-tengah gurun yang tandus.
Setelah berpikir dan menimbang, ia memilih berjalan mencari jalan keluar dari gurun tersebut. Pada siang hari ia beristirahat dan berlindung dari teriknya sengatan sinar matahari. Pada malam hari ia berjalan dengan mengikuti petunjuk bintang. Ia bertahan dari ganasnya badai gurun yang kejam dan sergapan hewan-hewan beracun di gurun. Hingga pada akhirnya setelah perjalanan yang menguras seluruh pikiran dan fisiknya ia mampu keluar dari gurun dan bertemu dengan pemandu dan bekal perjalanannya serta meneruskan kembali perjalanannya.
Sahabat semua, apabila orang tadi hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa, ia akan mati di tengah-tengah gurun. Pada siang hari ia akan terpanggang oleh panasnya matahari dan pada malam hari ia akan ditusuk oleh dinginnya gurun. Sementara itu ia tidak memiliki bekal yang cukup, maka pastilah ia akan meninggal apabila tidak ada orang yang menolongnya.
Hidup seorang manusia adalah seperti kisah orang yang mengembara tadi. Seorang manusia hidup di dunia ini telah diberi bekal yang sangat cukup dan sangat lengkap sehingga ia dapat melewati padang kehidupan dunia ini hingga tiba di ujung perjalanannya dengan senyum kepuasan dan kemenangan karena telah berhasil melewati semua rintangan yang ada.
Seorang manusia juga telah diberi segala potensi untuk melewati segala rintangan agar sampai di ujung padang kehidupan dengan selamat. Potensi tersebut bukan sesuatu yang bisa muncul dengan sendirinya. Butuh perjuangan dan ketetapan hati. Pada mulanya orang yang mengembara tadi belum punya kemampuan untuk bertahan di gurun yang keras. Ketika ia memutuskan berjalan keluar gurun, lambat laun pula ia belajar sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia memiliki kemampuan untuk keluar dari gurun. Manusia hanya tinggal memilih untuk belajar menggunakan kemampuannya untuk berjuang keluar dari segala masalah atau memilih berdiam diri menunggu bantuan orang lain.
Bagi seorang manusia setiap hari adalah pendakian menuju puncak tertinggi. Setiap hari adalah waktu untuk mengasah kemampuan diri. Dan setiap hari adalah satu langkah lebih dekat menuju cita-cita. So, bagi yang berhenti ia hanya akan berjalan di tempat itu atau malah terperosok ke bawah karena tertimpa longsor dari atas. Dan bagi yang memilih untuk terus berjuang hingga ke puncak ia akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar