Rabu, 05 Mei 2010

121 detik,...

Berputar. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan waktu yang kita miliki di dunia ini. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti abad, dan seterusnya. Waktu akan terus merangkak, berjalan, berlari, sampai suatu saat kita sadar bahwa kita telah ditinggalkan olehnya.
Namun, sadarkah kita apa saja yang telah kita lakukan selama ribuan jam yang telah berlalu. Pahamkah kita akan tujuan dari kehidupan yang sekarang ini kita jalani. Dan mengertikah kita bagaimana seharusnya kita mengisi hidup di dunia ini untuk ribuan jam yang akan datang.

Masih banyak dari kita yang dalam kehidupannya jauh dari apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya. Kita seringkali masih banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna bahkan tidak jarang masih terjerumus dalam perbuatan maksiat tanpa kita sadari. Kita seringkali meremehkan dan menunda-nunda apa yang menjadi kewajiban kita dan berujung pada kelalaian dalam melaksanakannya. Kita seringkali masih terlena dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang sesaat dan lupa akan kenikmatan yang kekal abadi. Kita seringkali melanggar perintah-perintah Allah walaupun kita telah mengetahui bahwa itu merupakan larangan. Kita seringkali meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah walaupun kita tahu hal itu akan memberi kebaikan untuk kita. Kita seringkali diam ketika melihat kemaksiatan-kemaksiatan meski kita paham apa yang seharusnya kita lakukan. Kita seringkali membuang waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat walaupun kita tahu waktu tidak akan berputar balik. Kita seringkali mengacuhkan nasehat yang benar walaupun kita tahu bahwa itu baik untuk kita. Kita seringkali merasa bahwa amal baik kita sudah setinggi langit meskipun kita sadar bahwa setiap waktu kita melakukan dosa. Hati kita seringkali terdapat perasaan sombong karena merasa lebih baik dari orang lain padahal di sisi Allah kita bukan apa-apa.
Saudaraku, marilah kita tengok kembali hakikat kehidupan kita di dunia ini. Dalam riwayat dikatakan bahwa sebenarnya kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara. ”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat” (HR Bukhari).
Kita hidup di dunia ini seperti seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan untuk mencapai suatu tujuan. Seorang musafir sudah tentu tidak ingin berlama-lama dalam perjalanannya. Pasti dia ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Seharusnya itulah yang harus tertaman di dalam benak kita wahai Saudaraku. Dunia ini bukanlah sebuah tujuan yang pantas untuk kita perjuangkan dengan sepenuh hidup kita. Semua yang ada di dunia ini pastilah kita tinggalkan tak terkecuali apa2 yang kita cintai dan sayangi.
Lantas berapa lamakah perantauan kita di dunia ini? Jika kita bandingkan antara umur kita ( rata-rata 70 tahun ) dengan ketika kita dibangkitkan di padang masyar ( 50.000 tahun ), maka menurut teori relativitas kita hidup di dunia ini hanya terasa kurang lebih selama 2 menit 1 detik. Bukankah hal tersebut merupaka waktu yang sangat singkat. Akan tetapi banyak manusia merasa akan hidup di dunia ini selama-lamanya.
Saudaraku, sesungguhnya hanya satu kunci yang dapat kita pegang untuk mengarungi 2 menit itu. Kunci itu adalah sabar. Bisakah kita bisa bersabar untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sungguh-sungguh dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan yang dibenci oleh Allah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk selalu mengisi waktu kita untuk melakukan ibadah kepada Allah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk memperjuangkan kembali tegaknya Islam dengan berdakwah dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk senantiasa introspeksi diri dalam 2 menit itu. Bisakah kita bersabar untuk menerima nasehat yang benar untuk diri kita dalam 2 menit itu. Dan bisakah kita bersabar untuk senantiasa melakukan sesuatu yang dapat membawa ridho Allah kepada kita dalam 2 menit itu.
Ya, memang benar kehidupan kita setelah di dunia ini ditentukan bagaimana kita manjalani kehidupan di dunia ini. Apakah kita taat ataukah ingkar terhadap hukum-hukum Allah. Jadi Saudaraku, bersabarlah untuk selalu taat kepada hukum-hukum Allah di kehidupan yang singkat ini demi meraih kehidupan yang terbaik kekal di akhirat kelak. [gs]

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. http://easyonlinex.blogspot.com/2010/11/top-ptcpaid-to-click.html

    BalasHapus